Selasa, 08 Januari 2019

Antara Aku dan Dunia

Aku percaya jika setiap manusia itu dilahirkan dengan anugrah kemampuannya istimewanya masing-masing, masalahnya adalah kemauan manusia itu untuk mencari apa yang benar-benar dia miliki dan kuasai dan itu tidak akan pernah seseorang dapatkan jika dia selalu menyembunyikan identitas dirinya sendiri yang baik dan menonjolkan diirnya sebagai orang lain.
Beberapa hari ini, awal Januari sang pemilik kehidupan mempertemukanku dengan beberapa orang baru, keadaan baru, dan rasa yang baru. Yap,semua yang membuatku sadar jika aku benar-benar telah dewasa dan semakin merasa tertinggal. 

Aku seolah sedang berdiri di dunia yang sedang meledekku "Hahaha...Kamu, apa yang kamu sudah dapatkan, kamu sudah terlalu jauh tertinggal"
Sambil berkacak pinggang pun dia mencoba kembali menohokku. "Lihat orang lain, se umur mu udah banyak hal yang didapatkan, sedangkan kamu apa?
Ya Allah...aku terpana, aku terhenyak dengan keadaan itu. Aku kaku, aku sedih, aku gagal lagi berdamai dengan diriku. Hingga aku kembali berkaca pada realita dunia, dunia yang tidak menjanjikan apa-apa. Dunia yang sementara, apa yang bisa aku kejar? Lalu aku menjawah dengan suara yang sedikit agak ragu, agak ragu adalah sifatku yang begitu mendomisili diriku dahulu, yang kini perlahan ku pinggirkan hingga akhirnya sifat itu ingin kutendang jauh-jauh.
"Memangnya apa yang bisa kamu berikan kepadaku?
"Hahaha..."Seoalah dunia tertawa kepadaku dan ingin menampilkan kehebatannya tapi aku segera potong.
"Apa yang bisa kubanggakan dari sebuah kehidupan yang sementara ini, apa yang bisa kukejar darimu? Apa yang kudapatkan darimu? Sudah cukup aku keatiggalan dan aku mengejarmu, kini aku tahu aku tak akan sampai jika mengejarmu.
Dunia pun terdiam sesaat lalu  menjawab. "Kalau begitu mending kamu mati aja.."
kini giliranku tertawa sinis, "Aku masih mengejar mimpiku, aku masih mengejar harapanku kini, tapi tak seperti dulu, mimpi dan harapan dengan tujuan kepadamu, sekarang aku ingin mengejar semuanya karena rasa syukurku untuk memakai pemberian sang pemberi kehidupan, melakukan apa saja yang aku bisa, menjadi lebih baik dalam agama, mental dan harta, hingga ketika aku kembali waktuku tidak sia-sia disini.

Minggu, 23 Desember 2018

22 Tahun Perjalanan Menuju CintaNya


Assalamualaikum hari yang baru
Selamat datang umur baru
yang membuat kadar angka seolah bertambah namun sebenarnya hakikat kehidupan ini telah berkurang, jatah hidup yang semakin berkurang dan perjalanan menuju cintaNya hanya dalam hitungan waktu kini telah menembus angka 22, angka dimana seorang anak bukan lagi patut untuk bermalas-malasan, seorang anak yang benar-benar dituntut untuk mandiri dan harus pantai menghadapi kehidupannya.
Bukan lagi seperti dulu, kehidupan yang yang ditera-terka, lalu merasa minder dan menjauh, atau pada kenyamanan yang tak berujung. Bukan lagi seperti itu, tapin pada garis mimpi dan takdir yang benar-benar telah nyata, bukan imajinasi lagi, kita ada pada dunia nyata, bukan halusinasi, meskipun kadang aku begitu perlu berimajinasi untuk hanya ingin membuat coretan pada novel-ku.
Pagi semakin mengajak matahari untuk bersinar kembali, belum lelah memberikan harapan-harapan baru, menyisipkan pesan tentang tak boleh sedikit pun patah ketika menjalani kehidupan, mengingatkan pesan tentang pertarungan di hari selanjutnya, mau atau tidak mau kamu harus bertarung, bertarung menghadapi masalah dalam kehidupan ini, masalah yang harus membuatmu laksana teh manis di dalam cangkir, yang mengubah air menjadi lebih wangi dan enak di nikmati, menikmati setiap masalah yang kita hadapi lebih baik daripada menyesali dan mengutuk masalah kehidupan tersebut.
Dan tentang hari kemarin, adalah tahun yang begitu komplit, mengajarkan banyak rasa yang campur aduk, me-mix-kan semua perasaan, hingga perasaan yang jatuh-sejatuhnya dan rindu-serindunya, juga tentang memiliki dan menerjemahkan rasa. Tentu, aku berterimakasih untuk tahun itu, untuk tahun-tahun yang selalu membuat aku belajar banyak hal, untuk kisah itu yang membuatku semakin percaya kunci kebahagiaan itu tidak usah dicari ditempat lain, tapi cukup dalam hati kita saja dan berdamai dengan diri sendiri adalah permulaannya karena lagi-lagi aku semakin percaya Allah itu maha Adil dan maha Tahu atas segala penciptaanNya.
Kedepan yang masih tersisa jalan, meski tak tahu kapan akan berakhir, tapi yang kutahu aku Allah beri mampu untuk membuat mimpi, bukan tentang mimpi untuk kehidupan yang singkat tapi mimpi untuk menuju Cinta Allah dan cinta Rasul, bermimpi tentang kehidupan yang lebih baik dengan menjadi lebih sabar, hanya kurasa berjalan bersama lebih indah dari berjalan sendiri. Selanjutnya aku yakin ada Allah yang maha kasih sayang yang menjadikannya nyata, jadi untuk apa kita perlu berkhawatir.
Dan untuk hari-hari yang pernah kaku, untuk cerita yang penuh air mata, dan untuk cerita yang kurang pada lembaran itu, kuharap ia semakin benar-benar mengecil hingga jika ada satu dua, lagi-lagi aku berharap aku lebih bijak menghadapinya..
Aku harus ingat,perjalanan menuju cintaNya tak selamanya mulus, namun aku selalu punya sabar dan shalat menjadi penolong-ku, aku tidak pernah berjalan sendiri, Allah mengiringi perjalanan menuju baik ini, Allah akan mengirimkan malaikat-malaikat itu kepada-ku , karena Allah yang sebaik-baik penolong.


*Catatan bunda untuk 22 tahun.

Sabtu, 03 November 2018

Perjalanan Menuju CintaNya (Part I)

         Perlahan namun pasti, aku mulai menemukan jalan hidupku. Setelah terombang-ambing dengan tujuan aku berada di dunia ini untuk apa, setelah amat panjang berdebat dengan takdir, bahkan kadang sempat mencelanya. Kini, aku ingin kembali, iya, kembali ke asal tujuan aku dilahirkan yaitu untuk menyembahNya. Menuju cintaNya adalah yang kusebut meski harus beberapa kali jatuh dan terseok-seok, merangkak-rangkak dan ngesot. Tapi, akan kupastikan aku tidak akan menyerah. Justru sebaliknya, aku akan menjadikan rasa sakit itu sebagai bumbu untukku semakin mudah menuju cintaNya.

           Aku memulainya dari tempat sederhana yang paling sering kuhabiskan waktu dalam hidup ini, rumahku. benar itu, disana dengan kedua orang tuaku dan saudara-saudaraku. Perjalanan menuju CintaNya tidak akan sampai jika tanpa cinta mereka. Namun begitulah perjalanan, kadang sulit, pahit tapi ya harus tetap dilalui, berpositif thingking jika Allah sedang mempersiapkan kehidupan selanjutnya yang alakn membuat bahagia selama-lamanya. InsyaAllah.

Minggu, 30 September 2018

Menjadi Dewasa




Menjadi dewasa adalah pilihan, namun boleh aku bertanya season keberapa dalam hidup yang menunjukkan seorang anak gadis telah benar-benar menjadi dewasa seutuhnya? Apakah dia yang telah bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah dengan tuntas, menggapai mimpinya, ataupun mereka yang telah menikah dan mempunyai anak ataukah mereka yang telah bijak memaknainya kehidupan.

Tapi kukira dewasa bukan hanya tentang itu saja, dewasa adalah ketika kita berani gagal dulu ketika kita sedang mencoba, kemudian bangkit lagi dan terus bangkit lagi, kemudian mencoba lagi, terus mencoba hingga kita bisa, bisa memaknai kehidupan dan bisa memberikan sesuatu dalam kehidupan singkat ini. Intinya dewasa itu adalah bijak dalam memaknai sebuah kekalahan, kegagalan dalam kehidupan lalu belajar dari itu semua, kemudian terus berusaha, mencoba dan mencoba lagi hingga berhasil, hingga bisa. Selamat berproses menjadi dewasa.

Minggu, 23 September 2018

Cerita Bersama Hujan di Awal Muharram 1440

Hujan sepanjang malam tadi sudah mulai berhenti, malam pekat sebentar lagi akan berganti dengan cahaya fajar. Sayup suara Azan mulai terdengar dari surau-surau di desaku, dan beberapa mesjid di sekitarnya. Subuh mulai datang, tapi hari ini aku sedang absen kewajibanku. kuputuskan untuk memulai ceritaku. Ceritaku yang sudah dari sejak hujan tadi malam kembali terkenang dan iya, yang terkenang itu adalah kenangan. Kenangan bersama waktu.

Hari itu, rona-rona merah bahagia meskipun samar-samar jelas dirasakan dan ditularkan dari pasangan baru itu, teman satu ruang dan seperjuangan kami itu resmi melepas statusnya dari jomblo menjadi gak jomblo lagi, hujan mengiring perjalanan pulang dan pergi kami dan melewati daerah itu, daerah yang jaraknya tidak begitu jauh dari tempatku tinggal tapi begitu jarang aku kembali sejak hampir empat tahun yang lalu aku mengambil ijazah kelulusan disana. Ah, benar saja aku rindu.

setelah melepas mukena dari mesjid itu, mesjid yang empat tahun yang lalu hanya aku lewati saja, karena iya saat itu aku tidak memiliki alasan untuk shalat dalam mesjid itu, kan, aku bisa shalat di dayah. Tapi sekarang karena perjalanan pulang itu melewati jalannya aku pun singgah disana.

Hari itu, masih tujuh hari masuk Tahun baru, di pertengahan bulan September, bulan Hujan. Aku melirik keseitar, hujan masih gerimis. selepas sedikit bermunajat aku mengambil hapeku kubuka pencarian nama "Nurul" salah seorang teman SMA ku yang sering berkomunikasi denganku di awal bulan enam kemarin meski sudah hampir empat tahun tak sekali pun bertatap lagi, aku memutuskan untuk menemuinya yang katanya dia sekarang menjadi penjual molen di depan mesjid itu.

perjumpaan itu agak histeris, karena kami sama-sama lebay, beda dengan DekTa, sahabatku yang juga tadi aku temui dirumahnya. Sekarang dia sudah memiliki keluarga kecil, dengan anak lelaki yang manis, dia cenderung kalem. lain dengan Nurul yang memelukku histeris.

"Rinduu.." katanya yang tidak pedul dengan tatapan orang disekitarnya. Aku juga sama, tidak kalah lebay hingga membuat Nisak nyengir-nyengir sendiri ketika melihat adegan kami. kurasa dia juga paham menyaksikan itu, karena katanya dia juga pernah merasakannya.
Gerimis yang tadinya berubah menjadi hujan. Hujan yang lebat yang menemani obrolan kenangan kami, Nurul banyak bercerita tentang teman-teman masa SMA dulu dan juga kisah cinta barunya. Ah, anak itu masih juga sama, sering terlibat dengan hubungan yang tanpa tepi. Hujan sore itu seolah ingin mengulang banyak kenanganku disana. Satu persatu teman lamaku lewat dan kembali menyapa dengan tampilan barunya, meskipun bukan teman satu kelas, tapi kami dulu pernah begitu dekat, dan juga orang itu, Ms.Chairil sekarang sudah mulai berjualan baju di belakang tempat kerja Nurul, beliau tersenyum manis kearah kami. Masih manis iya, karena memang beliau orangnya manis. Hehe.
Perjalanan kembali ke area dayahku, Nisak menguatkanku untuk masuk area dayah itu, meski agak berat namun aku memberanikan diri bertemu dengan Waled lagian apa salahnya bertemu waled, "Aku sudah begitu rindu..."

Disana aku bertemu dengan mereka anak-anak balai seperjuanganku yang masih tetap tinggal di dayah, mereka banyak berubah, memang kekuatan waktu mampu segalanya, mengubah banyak hal. bocah-bocah cilik yang dulunya sering manja dan tidur di depan balai kini, berubah menjadi muslimah-muslimah yang manis. Tapi, tetap gaya mereka masih sama meskipun agak terpolesi sedikit.

Hujan sore itu juga mempertemukanku pada keluarga baru, Ummi Serdang dan kehiduapnnya yang serdehana, cucunya yang sederhana yang seketika membuatku takjub dan merasa begitu hangat. kehidupan yang biasa-biasa saja namun sakinah, mawaddah warahmahnya begitu terasa, halus dan sejuk sekali diantara tiada kesempurnaannya kehidupan seorang manusia biasa.Tapi mampu membuatku gerimis beberapa kali ketika mendengar omongan beliau.

"Ohya, hari itu aku juga begitu bahagia, Aku punya keluarga baru, umi mengatakan aku seperti anaknya dan beliau seperti orang tua" yang tentu satu perasaan syukur dan bahagia mendengarnya, bisa menjadi bagian dari keluarga itu. Lagi-lagi gerimis bahagia yang kusembunyikan ini turun tidak terbendung, padahal baru sehari aku disana. Benar kata bang Taufik, diangkat menjadi keluarga oleh seseorang itu membuat kebahagiaan, apalagi oleh Umi, Masya Allah.
Tahun baru Hijrah ini, seperti simbol-simbol dan tanda kekuatan Hijrahku dari Allah, ternyata ada banyak hal yang keliru dari yang selama ini aku bayangkan dan menyambung silaturrahmi adalah hal yang paling membuat kita bahagia. Semoga Allah selalu menjaga kita dalam keistiqamahanNya.

Muharram 1440 H


Muharram 1440 H

Nuansa sendu dengan gerimis adalah permulaan hari ini, meski aku sempat goyah dengan istiqamahku di awal pagi karena terlalu terlalu telarut di malamnya, aku masih harus bersyukur tentang banyak hal di hari ini. Hari ini dengan kejadian yang mungkin beberapa agak lucu  dan menyebalkan. Tapi, tetap membawa angin bahagia, angin perasaan damai melepas tahun ini, melepas tahun 1439 H, menjadi 1440 H.
Balon dilepaskan di udara islamic center, tanda semua harapan tentang tahun yang lalu sudah ikut terbang, sekarang udara baru untuk balon-balon yang baru. Pawai-pawai bocah-bocah kecil itu menyeramakkan pelepasan tahun ini dengan lantunan selawat di sepanjang jalan Lhokseumawe, ini impianku dari dulu ditahun-tahun sebelum ini, menjadi ustazah yang modern, Ustazah aswaja yang modern yang pernah aku uraikan dalam buku merah itu sewaktu aku masih tinggal dan berjuang di salah satu tempat terpenting, terindah dalam hidupku, tempat yang menempaku menjadi manusia kuat, kuat mental dan InsyaAllah kuat iman.
Selepas azan magrib tadi resmi, kenangan masa lalu ditutup di tahun yang lalu, semua luka-luka pilu di tahun yang lalu telah hilang. Aku memutuskan untuk berhenti melukai diriku  sendiri. Dengan sefatku yang sering suka menila orang lain gampangan, terlalu santai dengan beberapa hal yang tidak seharusnya dibuat santai, dan terlalu sibuk dalam dunia imajiku. Aku ingin hidup bahagia dengan impianku, dengan sesuatu yang aku mau yang diridhai Allah, hidup dengan penuh makna. Melalukan apa yang aku suka selama itu tidak bertentang dengan ajaran Rasulku. Aku ingin hidup lebih bahagia denga melihat mereka pun bahagia.Rasanya dengan semua itu, meskipun kita capek, lelah tapi kita bahagia.
Seperti yang aku rasakan malam ini, ternyata bahagia itu sesederhana ini, kta hanya perlu berjalan dengan menjadi diri kita sendiri, tanpa harus menjadi orang lain. Selama itu tidak menyakiti orang kenapa tidak kita harus menyembunyikan diri kita sendiri. Apa yang suka, lakukanlah, tapi yang paling penting kita kita harus tahu apa kita inginkan bisa bermanfaat untuk banyak orang yang akan membawa manfaat untuk kehidupan yang selanjutnya.
Hari ini adalah hari pertama kuliah, aku masih telat sih, dihari pertama. Tapi aku akan memastikan ini adalah telatku yang pertama di semester ini dan terakhir. Insya Allah dan hari ini adalah hari yang sibuk karena dari pertama aku membuka mataku, aku dengan rentetan pikiran dan pekerjaan tapi tidak seperti biasa, aku lelah tapi aku merasa bahagia, merasa angin-angin kedamaian menembus merdu dari ujung hatiku. Karunia Allah, karena yang aku lakukan hari ini adalah karena aku mencintai ini, meskipun aku juga pernah melakukan hal yang seperti ini sebelumnya,tapi jujur hari ini badai angin bahagia menyelesup. Aku ingin istiqamah dalam kebaikan tahun ini.
Istiqamah dalam berhijrah untuk mencari Ridha Alla adalah tema tahun ini. Aku ingin menyelesaikan studiku tahun ini, menemukan imam shalih untuk menggenapkan separuh agamaku, menabung untuk membawa kedua orang tua ke Mekah dan Madinah. Aku ingin melihat kakak menikah dan pesta dan abang bahagia, adik-adik yang selalu tersenyum.

Selamat Tahun Baru 1440 H.
Semoga Istiqamah

Kamis, 21 Juni 2018

Untuk Sebuah Cinta


Untuk Sebuah Cinta
Minggu 11 Maret 2018


Aku keumala, pemilik sisa rasa
Aku Keumala pemilik rindu tanpa aroma
Aku keumala pada senja tanpa warna
Aku keumala pada cinta yang hampa

            Pulpen hijau itu menari-menari diatas buku kecil gadis itu, lembut dan berayuun-ayun , sedikit menjelaskan perasaannya yang dalam, sering kaku dan membisu pada suara. Deru angin menerbangkan jilbab merah mudanya,dan suara deruan yang begitu dhasyat itu tanpas sedikitpun lagi menganggunya, suara kereta api yang barusan lewat. Malah ia terlihat begitu menikmatinya, menatap punggung badan kereta api yang baru beberapa menit meniggalkannya dengan sedikit senyuman, lalu ia kembali memasukkan buku kecil noters bersampul hitamnya kedalam tas ranselnya, lalu berjalan pulang, melwati area rel kereta api yang berbatu itu, tak jauh dari lokasi kampusnya.
            “Gadis yang aneh” Fian lagi-lagi menyebut gadis itu gadis aneh, sudah beberapa kali ia melihat gadis itu duduk di samping rel kereta itu, jika untuk sekedar menulis mungkin dia akan paham jika gadis itu adalah seorang yang sering biasa mencari inspirasi disana, tapi tidak untuk tersenyum dan menatap aneh kepada kereta yang lewat itu, lalu baru pergi.
            Lelaki hitam manis itu pun lansung menghidupkan sepeda motornya lagi di jalan dekat rel kereta api itu, berlalu dengan masih menyisakan sikap heran dan aneh menatap wanita itu.
 ***********

            “Akak... akak udah ulang ya!” Seorang anak lelaki kecil yang berumur delapan tahun menyembutnya ketika baru pertama meletakkan tas diatas kursi yang sudah robek itu, tangan anak kecil itu bermain-bermain sendiri tanpa dikontrol dan matanya menatap keatas saat pertama ia berbicara dengan Keumala. Menerwang jauh entah kemana arahnya. Dan mulut yang terus berkomat kamit entah sedang menjelaskan apa.
Keumala gadis yang sedang menginjak semeter enam di salah satu universitas ternamana sebagai anak beasiswa itu hanya meliriknya saja lalu menjawab singkat “Iya..” Jawabnya singkat sekali.
“Apan itta main-main lagi kakak” Anak itu berkata lagi, matanya mererawang keatas, dan tangannya menggawang-gawang tidak jelas.
“Nanti” Jawabnya yang tidak kalah cuek dari yang tadi.
“Ayokklah Kakak, Kian kesepian ini, Kak Nerhama belum pulang..”
Anak itu terus memaksanya, mengajak bermain.
“Udah Kian kakak capek, kakak mau istirahat dulu kamu ngerti ya!” Keumala mulai menaikkan nada suaranya, jengah mendengar ajakan dari adiknya itu meskipun pada awalnya sempat merasa kasian mendengar cerita singakta adiknya yang kesepian itu.
“Ahh..gak mau” Kian merajuk, tangannnya mulai memukul-mukul ke atas udara, mencoba meraih Keumala.
“Kian dengar! Kakak lagi capek, nanti kita mainnya’ Kali ini Keumala semakin menaikkan suaranya, dan berdiri, memegang tangan adiknya yang sudah mulai memukul-mukulnya.
“Gak mau!”
“Kian jangan nakal”
“Euu..gak mau!
“Sakit kian” kian semakin memukul Keumala hingga beberapa kali mengenai muka Keumala, pukulan tanpa arah, seperti baisa andalan Kian saat seddang megamuk, anak itu tidak bisa melihat dan berpikir sehat. Dia terlahir dengan kekurangan itu.
“Kiannn. .dengar kakak gak sih!’
Mendengar suara marahnya Keumala, anak itu menangis histeris, dia guling-guling di lantai semen rumah yang disana sini terdapat celah cahaya matahari, dan jika hujan tempat celah cahaya itu akan menurunkan titik hujan.
“Ada apa ini?” Seorang lelaki paruh baya yang rambutnya sudah dipenuhi uban muncul tiba-tiba dari balik pintu, meski memakai topi ubannya masih begitu dengan jelas terlihat.
Keumala hanya diam, dia melihat wajah lelaki itu yang merupakan ayahnya seperti biasa, tidak besahabat sketika melihat Kian semakin lama, semakin keras menangis. Dengan gesit lelaki itu melayangkan tangannya ingin memukul anak itu, satu dua klai pukulan itu tepat di punggung bocah itu yang terus menangis.
“Ayah, cukup ayah, cukup..” Keumala mencoba menghentikan pukulan ayahnya.
“Kenapa kamu Kian, kenapa kamu selalu menyusahkan ayah, kenapa kamu menyusahkan ayah eu?” Lelaki itu bertahan di pukulan ketiga karena dicegah oleh Keumala.
“Ayah sadar ayah, sadar!
Keumala tahu, jika sudah begini pasti terjadi sesuatu dengan perasaan ayah, dan itu pasti menyangku Uma, Keumala bisa menebaknya, ini pasti ada kaitannya dengan Nerhima yang sudah tidak pulang dua hari yang lalu karena biasanya ayahlah yang sangat menyayangi Kian.
Keumala menenangkan Kian, sambil menyesali peerbuatan pertamanya, seharusnya dia lansung mau menerima ajakan anak kecil yang malang ini untuk bermain, mungkin dia akan tidak merasakan sakit kena pukulan ayahnya.
“Sini sama kakak, kakak sayang sama Kian kok”
Kian terus menangis, Keumala memeluknya sambil berbisik beberapa kalimat ajakan dan rayuan. Kian masih sesegukan.
“Kian bukan orang jahat kan kak?” Pertanyaan anak itu dalam sisa sesegukannya.
Air mata Keumala menetes, “Bukan sayang, Kian adik kakak yang paling baik”.
*********

Cahanya lampu menerangi jalan dan gedung-gedung di dekat pelabuhan, warna-warni, pemandangan malam yang indah sekali. Sanura suka sekali menikmati pemandangan itu, sambil menikmati secangkir teh, dia duduk diatas kursi di balkon kamarnya sambil mengerjakan tugas kampusnya. Tapi, sesekali fokusnya pecah, bayangan sosok kakak senior yang sering naik motor gede ke kampusnya mencuri perhatiannya, kakak senior yang tidak lain adalah teman satu organisasinya, mereka sekarang sudah begitu akrab, salah satu ciri anak organisasi yang mudah sekali dekat dengan anggota yang lain.
Sesekali dia melamun, membiarkan kursor laptopnya bergerak-gerak sendiri,s edangkan dia asik menatap kedepan yang menyajikan pemandangan malam, kapal veri yang berlalu meninggalkan dermaga hingga ia tidak menyadari kehadirang seseorang dari tadi sedang memerhatikannya di pintu balkon kamarnya.
“Laptopnya ngambek tu, di cuekin, mentang-mentang orangnya lagi jatuh cinta! Kata seseorng sambil tersnyum simpul dan berjalan mendekat ke arahnya.
“Loh! Papa, dari kapan sudah berada disitu?
”Sejak negara api belum menyerang! Lelaki yang di panggil papa itu menjawab asal-asalan dan lansung duduk disamping putri kecil kesayangannya.
“Kamu kenapa? Jatuh cinta ya?” Godanya
“Ihh... Papa, apaan sih!”
“Itu bener... ayo jujur sama Papa”
“Bukan Pa, Sanura kan tidak suka jatuh cinta, jatuh itu sakit Pa”
“Enggak kok, siapa bilang, Papa enggak kok, justru karena cinta papa jatuh cinta Papa bisa berkembang dan tumbuh, makanya kamu jangan jatuhkan cintamu di tempat yang salah”
Sanura mulai memrhatikan raut wajah lelaki itu yang mulai tersenyum menatapnya.
“Pa, sebenarnya cinta itu apa sih?
“Cinta itu adalah mama”.
“Ihh Papa, yang jelas dong definisinya”
“Haha.. Loh, kenapa, memang begitu definisi cinta papa, Mama”
“Kan dalam mama juga ada dsefinisi”
“Cinta itu tidak menjatuhkan, tidak menjatuhkan semagant kita, tidak menjatuhkan harapan kita, dan cinta itu tidak membuat kita lupa dengan yang memberikan Cinta, dan bagi ayah cinta itu tanpa kata, hanya mama definisinya. Tidak lebih”
“Sanura iri sama mama, mama bisa dapatkan papa‘
“Sudah,sudah kamu juga bisa dapatkan yang lebih dari papa, asalkan kamu itu juga baik” Lelaki paruh baya itu memeluk putrinya.
“Sebenarnya Sanura sudah mendapatkannya Pa! Dia itu istimewa sekali, tapi Sanura tidak yakin dia sama seperti sanura” Gadis manis itu membatin.
“Ohya, papa hampir lupa kalau Papa kesini mau bilang kamu sesuatu, besok kita akan ketempat kakakmu, kata mama bayinya sudah lahir, laki-laki”
“Beneran Pa? Kenapa gak malam ini aja kita kesana”
“Ingat San, ini sudah larut malam, tidak baik bagi kesehatanmu.
Sanura menjewerkan bibirnya kedepan, merasa sedkit kecewa karena tidak sabar ingin melihat keponakan barunya lagi.
**********
           
“Gadis kereta aneh itu bersama siapa?” Fian berdiri dari jauh menatap gadis aneh itu, berjalan menggandeng tangna sebelah kanan seorang anak yang juga aneh, tangan sebelahnya mengawang-gawang tidak jelas, an matanya menatapa keatas. Sepertinya anak itu cacat, pikirnya yang berdiri sepuluh meter dari arah gadis itu.
Dia semakin penasaran dengan gadis kereta yang aneh yang ditemuinya sejak dia tanpa mencari cincinnya yang jatuh di tempat itu. melihat gadis itu tersemyum melihat kereta lewat, baginya adalah hal aneh yang pernah dia saksikan, dan saat kedua kalinya, ban motornya kempes sekitar jalan yang dekat dengan rel kereta api itu, dia melihat pemandangan yang sama. Gadis itu juga ada disana. Semenjak itu ada rasa penasaran di hati Fian.
**********

Keumala berdiri di luar pintu salah satu ruang UKM di kampusnya, memasang muka melirik-lirik sesuatu, dia sedang mencari seseorang yang ingin di temuinya. Tiba-tiba orang yang dimaksudnya keluar dengan senyum yang menawan dan ceria.
“Mau ambil bahan ya!, ayok kesini masuk aja!” Sanura berkata ramah kepada Keumala, Keumala mendongak dan melirik-lirik suasana di dalam ruang itu, seperti agak ragu untuk memasukinya. Hingga pada akhirnya ia mengangguk dan masuk kedalam ruang itu.
“Kami belum memulai rapatnya, jadi tenang saja kok”. Kata Sanura meyakinkan Keumala, ketika beberapa orang di ruangan itu menatap Keumala sekilas. Termasuk seorang lelaki yang duduk paling ujung.
“Dimana kita mengerjakannya?” Sanura membuka pertanyaan memilih tempat mana yang akan dipilihnya untuk mengerjakan tugas.
“Entahlah, aku ikut saja” Keumala menjawab singkat.
“Bagaimana kalau dirumah aku saja sore ini”
Keumala terlihat agak sedikit bingung, dia teringat kalau nanti dia harus menemani Kian.
“Tenang saja, ajak Kian saja kerumahku, lagian nanti dia bisa bermain di halaman diatas ayunan dengan mainan yang ada dirumahku.
“Tidak, San! Itu akan merepotkan seisi rumahmu, kamu tahu Kian kan?
“Ia aku tahu makanya aku mengajaknya juga, lagian kasian anak seperti itu dibiarkan dirumah terus La, sesekali dia juga harus jalan-jalan keluar juga”.
“Keumala mengangguk, tanda setuju, dia tahu sahabatnya ini, Sanura adalah orang yang paling baik yang ia pernah kenal di kampus ini, dan juga orang yang begitu ia iri.
“Yasudah San!” Aku kembali dulu ya!
Sanura mengangguk dengan sebuah senyuman kecil.

To be continued..































Antara Aku dan Dunia

Aku percaya jika setiap manusia itu dilahirkan dengan anugrah kemampuannya istimewanya masing-masing, masalahnya adalah kemauan manusia itu...