Kamis, 21 Juni 2018

Untuk Sebuah Cinta


Untuk Sebuah Cinta
Minggu 11 Maret 2018


Aku keumala, pemilik sisa rasa
Aku Keumala pemilik rindu tanpa aroma
Aku keumala pada senja tanpa warna
Aku keumala pada cinta yang hampa

            Pulpen hijau itu menari-menari diatas buku kecil gadis itu, lembut dan berayuun-ayun , sedikit menjelaskan perasaannya yang dalam, sering kaku dan membisu pada suara. Deru angin menerbangkan jilbab merah mudanya,dan suara deruan yang begitu dhasyat itu tanpas sedikitpun lagi menganggunya, suara kereta api yang barusan lewat. Malah ia terlihat begitu menikmatinya, menatap punggung badan kereta api yang baru beberapa menit meniggalkannya dengan sedikit senyuman, lalu ia kembali memasukkan buku kecil noters bersampul hitamnya kedalam tas ranselnya, lalu berjalan pulang, melwati area rel kereta api yang berbatu itu, tak jauh dari lokasi kampusnya.
            “Gadis yang aneh” Fian lagi-lagi menyebut gadis itu gadis aneh, sudah beberapa kali ia melihat gadis itu duduk di samping rel kereta itu, jika untuk sekedar menulis mungkin dia akan paham jika gadis itu adalah seorang yang sering biasa mencari inspirasi disana, tapi tidak untuk tersenyum dan menatap aneh kepada kereta yang lewat itu, lalu baru pergi.
            Lelaki hitam manis itu pun lansung menghidupkan sepeda motornya lagi di jalan dekat rel kereta api itu, berlalu dengan masih menyisakan sikap heran dan aneh menatap wanita itu.
 ***********

            “Akak... akak udah ulang ya!” Seorang anak lelaki kecil yang berumur delapan tahun menyembutnya ketika baru pertama meletakkan tas diatas kursi yang sudah robek itu, tangan anak kecil itu bermain-bermain sendiri tanpa dikontrol dan matanya menatap keatas saat pertama ia berbicara dengan Keumala. Menerwang jauh entah kemana arahnya. Dan mulut yang terus berkomat kamit entah sedang menjelaskan apa.
Keumala gadis yang sedang menginjak semeter enam di salah satu universitas ternamana sebagai anak beasiswa itu hanya meliriknya saja lalu menjawab singkat “Iya..” Jawabnya singkat sekali.
“Apan itta main-main lagi kakak” Anak itu berkata lagi, matanya mererawang keatas, dan tangannya menggawang-gawang tidak jelas.
“Nanti” Jawabnya yang tidak kalah cuek dari yang tadi.
“Ayokklah Kakak, Kian kesepian ini, Kak Nerhama belum pulang..”
Anak itu terus memaksanya, mengajak bermain.
“Udah Kian kakak capek, kakak mau istirahat dulu kamu ngerti ya!” Keumala mulai menaikkan nada suaranya, jengah mendengar ajakan dari adiknya itu meskipun pada awalnya sempat merasa kasian mendengar cerita singakta adiknya yang kesepian itu.
“Ahh..gak mau” Kian merajuk, tangannnya mulai memukul-mukul ke atas udara, mencoba meraih Keumala.
“Kian dengar! Kakak lagi capek, nanti kita mainnya’ Kali ini Keumala semakin menaikkan suaranya, dan berdiri, memegang tangan adiknya yang sudah mulai memukul-mukulnya.
“Gak mau!”
“Kian jangan nakal”
“Euu..gak mau!
“Sakit kian” kian semakin memukul Keumala hingga beberapa kali mengenai muka Keumala, pukulan tanpa arah, seperti baisa andalan Kian saat seddang megamuk, anak itu tidak bisa melihat dan berpikir sehat. Dia terlahir dengan kekurangan itu.
“Kiannn. .dengar kakak gak sih!’
Mendengar suara marahnya Keumala, anak itu menangis histeris, dia guling-guling di lantai semen rumah yang disana sini terdapat celah cahaya matahari, dan jika hujan tempat celah cahaya itu akan menurunkan titik hujan.
“Ada apa ini?” Seorang lelaki paruh baya yang rambutnya sudah dipenuhi uban muncul tiba-tiba dari balik pintu, meski memakai topi ubannya masih begitu dengan jelas terlihat.
Keumala hanya diam, dia melihat wajah lelaki itu yang merupakan ayahnya seperti biasa, tidak besahabat sketika melihat Kian semakin lama, semakin keras menangis. Dengan gesit lelaki itu melayangkan tangannya ingin memukul anak itu, satu dua klai pukulan itu tepat di punggung bocah itu yang terus menangis.
“Ayah, cukup ayah, cukup..” Keumala mencoba menghentikan pukulan ayahnya.
“Kenapa kamu Kian, kenapa kamu selalu menyusahkan ayah, kenapa kamu menyusahkan ayah eu?” Lelaki itu bertahan di pukulan ketiga karena dicegah oleh Keumala.
“Ayah sadar ayah, sadar!
Keumala tahu, jika sudah begini pasti terjadi sesuatu dengan perasaan ayah, dan itu pasti menyangku Uma, Keumala bisa menebaknya, ini pasti ada kaitannya dengan Nerhima yang sudah tidak pulang dua hari yang lalu karena biasanya ayahlah yang sangat menyayangi Kian.
Keumala menenangkan Kian, sambil menyesali peerbuatan pertamanya, seharusnya dia lansung mau menerima ajakan anak kecil yang malang ini untuk bermain, mungkin dia akan tidak merasakan sakit kena pukulan ayahnya.
“Sini sama kakak, kakak sayang sama Kian kok”
Kian terus menangis, Keumala memeluknya sambil berbisik beberapa kalimat ajakan dan rayuan. Kian masih sesegukan.
“Kian bukan orang jahat kan kak?” Pertanyaan anak itu dalam sisa sesegukannya.
Air mata Keumala menetes, “Bukan sayang, Kian adik kakak yang paling baik”.
*********

Cahanya lampu menerangi jalan dan gedung-gedung di dekat pelabuhan, warna-warni, pemandangan malam yang indah sekali. Sanura suka sekali menikmati pemandangan itu, sambil menikmati secangkir teh, dia duduk diatas kursi di balkon kamarnya sambil mengerjakan tugas kampusnya. Tapi, sesekali fokusnya pecah, bayangan sosok kakak senior yang sering naik motor gede ke kampusnya mencuri perhatiannya, kakak senior yang tidak lain adalah teman satu organisasinya, mereka sekarang sudah begitu akrab, salah satu ciri anak organisasi yang mudah sekali dekat dengan anggota yang lain.
Sesekali dia melamun, membiarkan kursor laptopnya bergerak-gerak sendiri,s edangkan dia asik menatap kedepan yang menyajikan pemandangan malam, kapal veri yang berlalu meninggalkan dermaga hingga ia tidak menyadari kehadirang seseorang dari tadi sedang memerhatikannya di pintu balkon kamarnya.
“Laptopnya ngambek tu, di cuekin, mentang-mentang orangnya lagi jatuh cinta! Kata seseorng sambil tersnyum simpul dan berjalan mendekat ke arahnya.
“Loh! Papa, dari kapan sudah berada disitu?
”Sejak negara api belum menyerang! Lelaki yang di panggil papa itu menjawab asal-asalan dan lansung duduk disamping putri kecil kesayangannya.
“Kamu kenapa? Jatuh cinta ya?” Godanya
“Ihh... Papa, apaan sih!”
“Itu bener... ayo jujur sama Papa”
“Bukan Pa, Sanura kan tidak suka jatuh cinta, jatuh itu sakit Pa”
“Enggak kok, siapa bilang, Papa enggak kok, justru karena cinta papa jatuh cinta Papa bisa berkembang dan tumbuh, makanya kamu jangan jatuhkan cintamu di tempat yang salah”
Sanura mulai memrhatikan raut wajah lelaki itu yang mulai tersenyum menatapnya.
“Pa, sebenarnya cinta itu apa sih?
“Cinta itu adalah mama”.
“Ihh Papa, yang jelas dong definisinya”
“Haha.. Loh, kenapa, memang begitu definisi cinta papa, Mama”
“Kan dalam mama juga ada dsefinisi”
“Cinta itu tidak menjatuhkan, tidak menjatuhkan semagant kita, tidak menjatuhkan harapan kita, dan cinta itu tidak membuat kita lupa dengan yang memberikan Cinta, dan bagi ayah cinta itu tanpa kata, hanya mama definisinya. Tidak lebih”
“Sanura iri sama mama, mama bisa dapatkan papa‘
“Sudah,sudah kamu juga bisa dapatkan yang lebih dari papa, asalkan kamu itu juga baik” Lelaki paruh baya itu memeluk putrinya.
“Sebenarnya Sanura sudah mendapatkannya Pa! Dia itu istimewa sekali, tapi Sanura tidak yakin dia sama seperti sanura” Gadis manis itu membatin.
“Ohya, papa hampir lupa kalau Papa kesini mau bilang kamu sesuatu, besok kita akan ketempat kakakmu, kata mama bayinya sudah lahir, laki-laki”
“Beneran Pa? Kenapa gak malam ini aja kita kesana”
“Ingat San, ini sudah larut malam, tidak baik bagi kesehatanmu.
Sanura menjewerkan bibirnya kedepan, merasa sedkit kecewa karena tidak sabar ingin melihat keponakan barunya lagi.
**********
           
“Gadis kereta aneh itu bersama siapa?” Fian berdiri dari jauh menatap gadis aneh itu, berjalan menggandeng tangna sebelah kanan seorang anak yang juga aneh, tangan sebelahnya mengawang-gawang tidak jelas, an matanya menatapa keatas. Sepertinya anak itu cacat, pikirnya yang berdiri sepuluh meter dari arah gadis itu.
Dia semakin penasaran dengan gadis kereta yang aneh yang ditemuinya sejak dia tanpa mencari cincinnya yang jatuh di tempat itu. melihat gadis itu tersemyum melihat kereta lewat, baginya adalah hal aneh yang pernah dia saksikan, dan saat kedua kalinya, ban motornya kempes sekitar jalan yang dekat dengan rel kereta api itu, dia melihat pemandangan yang sama. Gadis itu juga ada disana. Semenjak itu ada rasa penasaran di hati Fian.
**********

Keumala berdiri di luar pintu salah satu ruang UKM di kampusnya, memasang muka melirik-lirik sesuatu, dia sedang mencari seseorang yang ingin di temuinya. Tiba-tiba orang yang dimaksudnya keluar dengan senyum yang menawan dan ceria.
“Mau ambil bahan ya!, ayok kesini masuk aja!” Sanura berkata ramah kepada Keumala, Keumala mendongak dan melirik-lirik suasana di dalam ruang itu, seperti agak ragu untuk memasukinya. Hingga pada akhirnya ia mengangguk dan masuk kedalam ruang itu.
“Kami belum memulai rapatnya, jadi tenang saja kok”. Kata Sanura meyakinkan Keumala, ketika beberapa orang di ruangan itu menatap Keumala sekilas. Termasuk seorang lelaki yang duduk paling ujung.
“Dimana kita mengerjakannya?” Sanura membuka pertanyaan memilih tempat mana yang akan dipilihnya untuk mengerjakan tugas.
“Entahlah, aku ikut saja” Keumala menjawab singkat.
“Bagaimana kalau dirumah aku saja sore ini”
Keumala terlihat agak sedikit bingung, dia teringat kalau nanti dia harus menemani Kian.
“Tenang saja, ajak Kian saja kerumahku, lagian nanti dia bisa bermain di halaman diatas ayunan dengan mainan yang ada dirumahku.
“Tidak, San! Itu akan merepotkan seisi rumahmu, kamu tahu Kian kan?
“Ia aku tahu makanya aku mengajaknya juga, lagian kasian anak seperti itu dibiarkan dirumah terus La, sesekali dia juga harus jalan-jalan keluar juga”.
“Keumala mengangguk, tanda setuju, dia tahu sahabatnya ini, Sanura adalah orang yang paling baik yang ia pernah kenal di kampus ini, dan juga orang yang begitu ia iri.
“Yasudah San!” Aku kembali dulu ya!
Sanura mengangguk dengan sebuah senyuman kecil.

To be continued..































Perasaan Tanpa Tepi



Malam ini langit begitu ceria, bintang-bintang berkelap-kelip riang diatasnya dengan bulang sabit yang bergantung syahdu diatasnya. Dibawah cahayanya dan cahaya lampu remang-remang aku duduk di depan teras rumahku, sembari sebuah buku bacaan tentang waktu ditanganku. Lampu teras membantuku untuk mengenali jelas kata-kata yang aku baca yang mambuat aku sempat terlarut di dalamnya. Kali ini aku sedang sibuk membaca tentang kisah para sufi dengan kezuhudannya dan kisah seorang muslimah yang begitu teguh menjaga marwahnya sebagai seorang muslimah, dan yang terakhir kisah seorang ayah yang bangsawan yang menikahkan anaknya dengan seorang budak yang begitu jujur, air mataku banjir ketika itu, betapa aku kagum dengan dengan sifat hamba sahaya itu, yang menjaga amanah, dia sebagai penjaga kebun dan yang mengurusnya tapi dia sama sekali tidak menyentuh buah-buah yang ada dalam kebun itu, hingga suatu hari tuannya datang meminta sebuah buah yang paling manis dia memberikan buah yang ternyata asam dan ketika tuannya  bertanya, kenapa dia memberikan buah terseut, dia berkata bagaimana bisa dia mengetahui mana buah yang paling manis dan yang paling asam karena dia hanya beramanah untuk menjaganya dan mengolah kebun tersebut bukan untuk memakannya. Dia amat takut dengan Allah. Tanpa pikir panjang pun dia dijodohkan dengan anaknya yang sudah begitu banyak dilamar oleh para penguasa yang lainnya.
Mataku berkunang-kunang membaca kisah itu, kimanan dan kataqwaan seorang hamba sahaya itu menaikkan derajatnya dunia akhirat. Aku masih mengusap air mataku ketika seorang menyapaku di depan.
“Ra...” Aku menoleh dan mendapati sosok tubuh tegap yang memiliki kulit sawo matang berdiri di hadapanku, tersenyum begitu manis di hadapanku.
Aku segera mengusap air mataku, menetralkan diri kembali dan menutup buku yang sedang aku baca. “Eh, Arif, piyoh ”Kataku menyuruh dia untuk mampir. Arif segera mendekat dan duduk di kursi panjang terasku yang terbuat dari kayu dan berbentuk panjang itu. Dia tidak berubah, senyumnya masih senyum manis terindah seperti dulu, dan kulitnya meskipun sawo matang sama sepertiku, bedanya dia lebih bercahaya, dengan balutan kemeja koko berwarna manggis yang dijahit oleh ayahku musim lebaran yang lalu malah dia terlihat semakin mempesona.
“Ada dosa kita? “ Dia mulai membuka percakapan ketika duduk dengan jarak yang dijauhkan dariku.
Aku tersenyum, “Kop banyak..”
“Kalau begitu salim dulu lah..”
“Gak boleh salam-salaman...”
“Kan pake hijab, dilapisi lah..”
“Hehe, aku hanya tersenyum nyengir,  lalu bersalaman dengannya dengan melapisi tanganku dengan jelbab yang sedang aku gunakan.
“Minal aidhin wal faidhin...” Kataku yang tersenyum sedikit.
“Mohon maaf lahir dan batin..” Sambungnya.
Sejenak setelah itu, suara jangkrik yang belum datang mengapeli malam seolah berbunyi. Sunyi sebentar. Sepertinya baik aku dan dia sedang saling sibuk dengan pikiran kami masing-masing.
“Rizal tidak ada dirumah ya? Kemana dia?” Dia mulai membuka pertanyaan, bertanya tentang temannya yang tinggal disamping rumahku, abang sepupuku.
“Oo kurang tahu, sepertinya iya, dia lagi ketempat saudaranya mungkin”
“Oohh..”
Aku tahu seperti biasa, dia tidak dengan tujuan khusus untuk mampir kerumahku meskpiun kadang-kadang ada yang berbisik dihatiku, kalau dia sengaja datang kerumahku dengan beberapa bukti yang kadang mendukungku, tapi lagi, hatiku bertanya untuk apa dia sengaja? Lagian aku siapa? Atau kalau sengaja kenapa? Bukankah kami hanya teman?
Iya, Arief adalah temanku, teman SD ku, hanya dia satu kelas dengan abang sepupuku, Rizal dan aku adik kelasnya. Tapi, kami sempat satu kelas di diniyah atau pengajian siang sewaktu SD dulu, itu karena aku yang  mendapatkan keberuntungan yang dilompatkan kelas oleh Tengku hingga kami bisa satu kelas. Kami juga satu kampung, tapi beda dusun. Baik aku dan dia sudah lama saling mengenal sejak dulu. Awalnya kami tidak begitu akrab tapi semenjak aku dan dia sama-sama masuk pesantren dan dia sering kerumah bang Rizal kami sering berbicara bercerita-crita tentang pengalaman masing-masing. Mungkin disitulah kami mendapatkan kecocokan untuk berteman, Arief adalah orang yang peduli dan suka mengangkat tema-tema yang menarik ketika sedang mengobrol dengannya, orangnya asik dan gaya bahasanya renyah, orangnya humoris tapi humornya berkualitas dan bukan tentang kuantitas saja dia bisa mengangkat tema yang tidak garing dari apapun bahkan dari politik, ekonomi bahkan sosial, anak itu memang banyak tahu, tapi tidak nampak sok.
Dia kadang bak penceramah yang sedang mengingati jamaahnya dengan gaya yang khas, tapi tidak seperti menggurui, darinya pembahasan itu menjadi renyah karena kami sering lari-lari dari satu topik ke topik yang lainnya lalu kembali ke topik lain lagi atau bahkan hingga sampai membahas tentang isu-isu akidah yang terjadi hari ini, tentang isu aliran yang menyesatkan yang sedang gencar-gencarnya menyerbu media saat ini. Dia juga memberikan tanda-tandanya, agar aku tidak terpengaruh dengan ajaran itu yang katanya itu rawan sekali terjadi pada anak kuliah yang pondasi keimanannya gak kuat.
“Sepertiku misalnya..” Aku menyahut sekenanya dengan sedikit tersenyum.
“Tidak, tidak aku tidak bermaksud sepertimu ustazah, kan ustazah itu lulusan Salafi” Dia lansung menyangkal agar aku tidak salah paham, dan dia suka sekali memanggil aku dengan panggilan ustazah.
“Hahaha..iya ya, aku bercanda kok, doa darimu agar aku bisa selamat dunia akhirat”. Aku menjawab dengan sedikit tertawa.  Aku suka melihat Arief, dia santri yang cerdas dan kurasa kritis, dan penuh dengan retorika. Cara dia berbicara dengan penuh retorika dan menjelaskan dengan tanpa menggurui membuatku sekilas nyaman berbicara dengannya. Pantas saja dia dari dulu dikenal pintar selain juga sekarang adalah tercatat sebagai santri di sebuah dayah  terbesar di Provinsiku. beruntung rasanya aku mempunyai teman seperti dia.
Teman. Iya aku menyebutnya begitu, aku merasa nyaman ketika berbincang-bincang dengannya, tapi hubungan itu masih dalam batas teman, aku tidak menyebutnya lebih.  Hingga pada suatu hari yang telah lewat, sebuah kabar berita yang aku dengar dari abang sepupuku.
“Ra, Arief sepertinya menyukaimu? Kamu sama dia aja ya”
Aku menngernyitkan kening, sedikit nyengir, masih tidak begitu fokus dengan perkataan anak itu, aku tahu banyak perkataan yang keluar darinya itu dhaif atau bahkan mauhduk.
“Kamu tidak percaya? Kali ini aku serius, katanya kamu itu cewek idamannya, tinggi dan pintar...” Anak lulusan fakultas teknik kimia di sebuah kampus terkenal di kota ini seperti meyakinkan, tapi aku masih saja kurang yakin.
“Kamu ngomong apa Bang Jal, Kamu cemburu ya..?” Aku mencoba menjawabnya sekenanya, yang sebenarnya menyembunyikan rasa gugupku.
“Aih.. cemburu, kayak gak ada orang lain aja dicemburuin di dunia ini” Dia berkata dengan bibir sedikit dinaikkan keatas ku dan aku hanya tertawa lucu melihatnya.
“Tapi benar Ra, dia suka kepadamu, calon istri idaman masa depan katanya, tapi aku heran kenapa dia suka sama kamu, kamu pake doa apa sih? Dia salah mata kayanya, orang jelek gini dibilang manis..wkwkwk” Dia tertawa penuh mengejek.
Aku kesal dibuatnya, enak saja mengataiku. Mentang-mentang dia putih dan sedikit bermuka “Jelek-jelek gini tapi banyak yang antri lho..” Ada yang berontak ketika aku mengatakan itu. Siapa yang antri?
“Iya banyak yang antri, ya orang-orang salah mata kayak Arief itu contohnya” Dia menyahutinya lagi.
“Siapa Jal? Arief suka sama Rara? Kok gini kali tipe dia?” Kata Bang Rehas, abnag kandungku menimpali yang tidak kalah menjengkelkan itu. Sialan punya dua abang, dua-duanya nyebelin. Asli, aku hanya manyum saja, tidak menjawab apa-apa, ingin rasanya aku bocori kalau salah satu Tengkunya di dayah yang sering datang kerumahku, sering menghubungiku, bahkan mengajakku untuk serius. Pake gombalan terasi lagi, untung saja aku masih punya pertahanan hati yang masih alhamdulillah bagus, yang menyerap tiap kata-kata dan hubungan yang ada agar tidak mudah baper. Karena aku cukup tahu watak cowok dari dua orang lelaki di depanku ini selain juga aku tidak mau menjatuhkan derajat Teungku atau gurunya abang kandungku.
Pembahasan lebih dari lima bulan yang lalu yang kadang-kadang sering diulang-ulang dan menjadi bahan olok-olokkan oleh keluargaku, tapi aku anggap biasa saja. Bagiku Arief masih menjadi temanku, teman yang baik, aku tidak ingin terlalu baper dan mengambil hati dalam komunikasiku dengannya. Apalagi Arief punya segalanya untuk membuat hati wanita dan calon mertua terpaut. Dia ganteng, tinggi, pintar plus dari keluarga berada. Sedangkan aku adalah lawan dari definisinya. Bahkan menurut cerita dari bang Rijal shabat dia dari kecil itu, katanya pernah ada Emak-emak yang mau menjodohkan dia dengan anak gadisnya yang cantik jelita di ketika mengikuti safari dakwah Ramadhan di sebuah kota di ujung provinsiku dan aku sering juga mengintip-intip media sosialnya, saat status dia melayang di udara, bersiap-siaplah melihat para cewek-cewek dari berbagai macam levelnya berkomentar, dari yang anak kesehatan, sampai ukhty-ukhty, bahkan untuk status kacang goreng sekalipun, tapi dia jarang sekali menggubrisnya, hanya komentar penting dari teman-temannya yang dia balas. Lagi itu kontra sekali dengan diriku. Ah, aku akan menjadi korban FTV di SCTV jika sampai aku berpikiran Arief menaruh perasaan lain kepadaku.
Ia, Arief memang terlihat seperti namanya, seperti malam ini. Aku sempat memerhatikannya sejenak ketika membawakan minuman kehadapannya dikuti dengan adik kecil ku di teras depan rumahku itu. Senyumnya masih manis juga sikapnya yang mudah dekat dengan orang lain bahkan adik kecilku yang berumur tiga tahun itu menyukainya, sehingga kadang aku seperti berharap perkataan bang Rizal yang sering membawa berita palsu itu shahih. Haha, bukan karena lain, sepertinya derajatku akan naik kalau sampai dicintai oleh orang seperti itu,  Tapi, aku berusaha mengontrol perasaanku, mengontrolnya agar dia tidak terlalu terbang tinggi, karena jika nanti terhempas maka akan sakit, sakit woyy. Aku memutuskan untuk kemabali ke dunia nyata.
Tapi yang aku sukai dari berbicara dengannya adalah aku menjadi diriku sendiri bahkan kadang-kadang aku bisa membuang jauh kata-kata bang Rijal itu, sehingga tidak ada istilahnya jaim atau jaga image didepannya. Satu jam terasa begitu cepat berlalu karena merasa tidak enak, dia pun pamit. Mamak mulai bereaksi dari dalam, beliau keluar untuk sedikit berbasa-basi dengan Arief, dari semua yang paling exicted mendengar kabar dhaif dari bang Rijal adalah Mak. Bagaimana tidak, seperti penjelasan tadi, sudah aku sebutkan dalam definisi tadi, Arief adalah calon mantu idaman. Termasuk Mamak.
“Oa, lusa Insya Allah aku bawakan majalahnya ya!”
“Iya, aku pinjam ya” Kataku yang cukup senang, karena tahu dia memiliki koleksi majalah itu yang beberapa bulan yang lalu kulihat di rumah temanku, rasanya ingin sekali aku membacanya dan Arief akan meminjamkannya.

                                                            ****************
Hari itu lebaran kelima, hujan mengguyur desa kecilku. Tidak seperti yang lain yang memanfaatkan lebaran untuk jalan-jalan aku malah lebih bahagia lebaran tinggal dirumah dan mengambil kesempatan untuk tidur. Yah, ditemanin dengan buku-buku novel dan majalah-majalah atau bahkan hapeku, rasanya cukup membuat aku nyaman. Tidak, tentu aku juga tidak melewatkan momen silaturrahmi di hari lebaran, tapi itu kulakukan di hari lebaran pertama, aku memilih putar-putar keliling tempat saudara di hari lebaran pertama untuk bisa beristrihat di hari lebaran selanjutnya yang ternyata masih tidak bisa, pasalnya dari lebaran pertama dan keempat ada saja yang bertamu kerumahku, meskipun harus aku akui, aku yang berubah menjadi waitress dadakan yang harus menyiapkan minuman atau menyiapkan makan siang, dan kecapekan, tapi jujur dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku larut dalam senang dan terharu, Alhamdulillah setidaknya ada yang masih mau berkunjung kerumahku.hehe...
Tapi yang membuat aku jengkel adalah, mayoritas dari semua tamu yang datang itu adalah keponakan dari ayah dan mamak, yang sudah menikah yang diantaranya ada adik sepupuku yang tuaan aku hany beberapa bulan dan dia sudah menikah dan punya anak. Sehingga mamak berujar lengkap dengan gaya khas emak-emak yang pingin cepat dapat mantu.
“Sibuk dengan menantu orang aja lebaran, menantu sendiri entah kapan datang, entah siapa yang mau sama ini anak..?” Kata Emak sambil melirik ke arahku yang sedang ingin membawakan minuman kedepan untuk tamu.
Saat seperi itu, rasanya nampan yang akan kuisi dengan gelas-gelas minuman itu ingin sekali aku kunyah karena sektika berubah menjadi kerupuk.
 “Mak anakmu masih semester enam, masih pingin ngajar, lagi pusing proposal, please mak ngerti,ngerti! Suara batin yang terpendam biar durhakanya berkurang sedikit karena tidak menyahuti Mak, takut mampus kena kutukan.
Dan hari itu, liburanku pun datang, setelah menerima tamu yang aku harap adalah tamu terakhir hari ini tadi pagi setelah shalat Dhuhur langit mulai mendung, aku rasa sebentar lagi langit akan menangisi kejombloanku, menangisi setengah meledek, haha..Aku tidak sengenes itu lagi. Aku Jofisa yang sedang berusaha memperbaiki diri untuk pangeran idaman, hoho...
Jam tiga lewat, adik lelakiku masuk kekamarku sambil menaruk dua buku diatas kasurku. Aku sempat membuka mata, melihatnya, ada tulisan umdah disana, aku sedikit tersenyum kemudian lanjut tidur lagi. Aku tahu mungkin Arief telah datang membawa majalah itu untukku. Ada yang berbisik agar aku bangun saja dan mengucapkan terimakasih, karena pasti Arief pasti masih dirumah bang Rijal. Tapi, suasana gerimis membuat aku melanjutkan memeluk guling dan tidur lagi.
Malamnya setelah makan malam aku mulai mengambil majalah itu, aku membuka halaman per halaman buku itu, hingga pada halaman terakhir. 
Selamat membaca, dan
#Bantu aku mengeja perasaan yang bertumbuh liar ini.
Aku tersentak membaca kalimat ini, perasaan apa maksudnya, hatiku ingin terbang jauh, tapi kupaksa untuk tetap tinggal dibumi, meskipun sepertinya dia tetap memaksa memecahkan perintahku, hingga akhirnya aku terpaksa mengizinkannya untuk terbang, tapi dengan pesan jangan jauh-jauh, aku takut jatuh dan tehempas sakit.
Hapeku sudah dari tadi berdering, karena aku baru saja mangaktifkan paket dataku, beberapa pesan grub masuk, terlalu banyak grub dan beberapa pesan konyol dari teman-teman gila dan anehku. Aku belum sempat membacanya kadang aku lansung menghapusnya kecuali untuk beberapa pesan grub yang penting, seperti pesan grup pengajian aswaja dan grub kepenulisan yang menuntuk tugas itu yang akan kuprioritaskan untuk membacanya.
Dan diantara pesan WA itu aku melihat pesan dari Arief yang dari dua hari yang lalu tidak putus-putus. Padahal hanya pembahasan konyol dan tidak jelas bahkan terkadang seperti dipaksakan, beda sekali dia  lewat pesan chat dan bertemu lansung.
“Oa Arief, Terimakasih ya majalahnya”.
Aku melihat tiba-tiba dia online dan lansung mengetik. “Sama-sama”
“Ini kapan aku kembalikannya” Aku mulai mengetik lagi dengan perasaan yang tidak menentu dan kulihat dia juga sedamg mengetik.
”Oa itu tidak usah dikembalikan, itu hadiah untuk kamu ”.
Aku kembali tersentak mebacanya. “Serius?
“Dua rius..”
“Tapi Arief aku merasa tidak enak, kan kemarin aku minta pinjam..”
“Kok gak enak ? orang biasanya senag dapat hadiah..udah terima aja gak apa-apa”.
“Tidak usah merasa sungkan, aku senang memberimu hadiah kok”

Aku mulai meletakkan hape dan mataku mulai terhenti pada kalimat itu, majalah sederhana itu tampak masih baru, dan aku mulai membaca lagi kata-kata itu yang dari tadi memberi sayap kepada hatiku untuk terbang, dia sudah terbang, tidak bisa ku elak, Arief mempunyai pesona itu dan siapa yang tidak terpesona. Sekuat-kuatnya aku menjaga hati ternyata aku juga goyah. Ternyata benar, hati perempuan itu seperti air dalam baskom yang mulanya tenang tapi jika disentuh air yang tenang itu menjadi akan bergerak dan goyah.
Tidak, tidak, aku tidak serapuh itu, ku tarik paksa kembali hatiku yang sedang terbang itu untuk masuk ke tempatnya lagi, ku tatap sekali lagi tulisan Arief itu, aku mulai menarik nafas panjang. Aku tidak akan mengejanya, aku tidak akan peduli perasaan apa yang dia maksud, aku tahu perjalanan Arief masih panjang, dan aku juga masih tidak ingin terburu-buru, aku masih ingin menikmati hubungan pertemanan yang saling mengigati itu, dan yang terpenting aku tidak ingin jatuh pada perasaan yang bukan pada seharusnya dan aku tidak ingin terjebak dalam sebuah perasaan tanpa tepi karena perasaan itu yang didefinisikan cinta adalah sebuah perasaan suci yang tidak boleh dinodakan dengan halusinasi, itu syaithan perantaranya, karena cinta itu sebenarnya adalah perasaan suci yang diikad dengan dengan janji suci melalui akad yang sakral di depan wali dan saksi.


Keude Klep, 20 Juni 2018
Ra





















































Selasa, 12 Juni 2018

Sesuatu yang Tanpa Tema



Kau tahu, saat ini aku sedang menuliskan sesuatu yang keluar dari tema apa yang sebenarnya ingin aku tulis, hanya untuk melupakan bahwa aku begitu terbeban, aku sedang dalam tanggungan, tanggungan yang kadang membuatku benci untuk mengingatnya. Tapi, aku tanpa pilihan karena pilihanku hanya satu, yaitu aku harus menyelesaikan tanggungan itu, beban itu. aku benci, iya ketika aku menyadari betapa sebenarnya aku begitu rapuh, hanya untuk mengeluh dengan beberapa hal yang sepele ini, padahal disana banyak yang punya beban kehidupan lebih dari yang aku punya, tapi mereka, jarang sekali megeluh, jarang sekali marah apalagi tidak bersyukur tapi aku? hah, sepertinyasudah sering sekali.
Meski iya kadang beberapa orang yang aku kenal tidak akan sanggup pada posisiku, tapi bukan bearti tidak ada orang yang dengan sukarela jika bisa menukarkan posisinya dengan posisiku. Mungkin bagi orang itu, kehidupanku lebih menjanjikan kesenangan dari pada hidupnya. Itu dalam kacamatanya, tapi lain lagi dalam kacamataku. Lagi-lagi bahagia itu tanpa definisi tapi dengan perasaan, kita selalu dengan mudah mencoba mengukur kebahagian orang lain yang padahal tidak bisa kita ukur, lalu berkeinginan untuk menjadi seperti orang lain, padahal sadar atau tidak yang kita dapatkan adalah apa terlebih baik untuk kita. hingga aku menemukan definisi bahagia, bahagia tentang cara kita menata , hati adalah kuncinya.
Dan malamku kali ini ditemani dengan hati yang kosong, rapuh terasa lagi, aku tahu itu kenapa, karena zikir seperti telah mengering di bibirku, hingga kadang energi itu hilang dan sesasaat saat ku kembalikan zikir itu, energi itu kembali ada.

Rimba Kenangan



Bukan Seperti Cinta yang Aku Impikan

Bahkan aku tidak memikirkan apa-apa lagi seain pikiranku yang telah semakin tumbuh dan becabang liar di samudera kepalaku. Merindui adalah salah satu celah dari detik yang kumiliki,  beberapa kali aku ingin mengatakan aku benci dan aku lelah beberapa kali aku tersadar jika aku  dalam kata-kata menyerah itu, sungguh aku adalah orang yang paling rugi dan lelah.

Siang itu masih dalam balutan langit bumi khalistuwa yang indah, aku dan bebarapa temanku masih berjalan riang, menyesuri sudut-sudut jalan kampus yang kaku, tapi bersama mereka tidak pernah kaku, ada saja pembahasan yang renyah dan mengundang tawa yang membludak, seperti biasa Rere masih menjadi pemimpinnya. Anak hitam manis itu selalu begitu, selalu menjadi ketua bagian untuk membicarakan hal-hal konyol yang kadang tidak sempat dipikirkan dan masuk akal, tapi menjadi bahan lelucon yang membuat sakit perut bersamanya.
Tapi semester ini, sudah mulai beda, tawa menggema itu selalu diakhiri dengan pikiran tentang menjadi mahasiswa akhir.
“Proposal euy, proposal...” Seperti biasa Iin selalu bertingkah sebagai mak-mak yang suka mengingati.
Sontak pembahasan mereka pun berubah, mukanya mulai kuyu, lusuh apalagi Rere, aku tahu anak itu, dia tipe anak yang tidak ingin menyia-nyiakan uang orang tua, paling rajin belajar dan cacatannya paling lengkap diantara kami, meskipun kami akan kebingungan membaca catatannya itu, soalnya dia menulis apa saja yang dosen jelaskan, mulai poin-poin, sampai dengan contoh sederhana yang dikatakan dosen, sehingga kami akan tertawa geli ketika membaca catatannya. Seperti pada mata kuliah hukum pidana,dosen yang menjelaskan tentang contoh kasus antara cowok dan cewek yang bersengketa, itu masuk ke dalam contoh yang bagaimana.
Tidak hanya Rere, begitu juga Vivi si cewek aneh yang mengakui tidak bisa hidup jomblo, dia juga akan pusing jika harus mengingat tentang ini. Aku? Apalagi bingung benar-benar bingung, bagiku menyelesaikan proposal adalah menyelesaikan tantangan separuh mimpi, agak lebay mungkin, tapi ya begitulah. Meskipun begitu mukaku masih bisa dikontrol, aku seolah sok santai dan berujar.
“Proposal itu bukan dicemasi, tapi dicari, dipikirkan diolah, kalau gak belum dapat, please jangan rusak hari ini gara-gara dia” Kataku sok tenang, sok santai.
Beragam tanggapan lain yang aku dengar dari mereka, tapi aku hanya membalasnya dengan senyum, kecuali untuk tanggapan yang positif dan negatif. Untuk tanggapan yang positif aku aminkan dan untuk yang negatif aku berdoa dan berlindung kepada Allah agar hal tersebut tidak terjadi.
Pembahasan semester akhir adalah pembahasan yang klasual diantara kami, didalamnya bercampur aduk dengan berbagai tema lain, beradu padu. Sala satunya pembahasan calon imam, hemm... sepertinya pada pembahsan proposal pasti diiringin dengan pembahasan jodoh bahkan pembahsan jodoh hampir kalah tenar dengan pembahasan proposal itu sndiri.
“Heumm... Andaikan nanti pas aku buat skripsi, ada yang menemani, atau ada yang bantu kita lembur malam sambil bantu kita buatnya..” kata Seseorang diantara kami sore itu di sebuhak kantin langganan satu ruang.
“Unchhhh.....” Seorang yang lain menyeru sambil meletakkan tangna rapi dibawah pipinya, matanya setengah terpejam menmbayangkannya.
“Terus ada yang nyemangati...” Sambung yang lain lagi.
Aku tidak menyahit apapun, keculai dengan menghentikan aktivitasku yang sedang membuka hape-hape. “Ah, seandainya mereka tahu, itu yang sedang aku mimpikan”
Hampir seluruh anak angkatan aku seperti itu kecuali satu dua orang yang sepertinya memeluk prinsip wainita lebih modern dengan bekarir dulu, kuliah yang benar, ambil SII dan kerja baru menikah maka ketika itu dia akan berseru.
“Sibuk calon imam aja, kerja dulu dong baru nikah”
“Eh, kerja ya kerja, nikah ya nikah” salah seorang yang lain mneyahutinya.
“Tapi kan yang namnaya kita udah nikah, mana sempat berkarir cemerlang lagi, wanita itu harus modern dan mandiri donk”.
Banyak argumen yang mereka ributkan kemudian, dan menjadi topik hangat ditengah kantin sore itu. Saat itu, aku tidak banyak menanggapi, bagiku mau kerja atau menikah itu pilihan setiap orang, tapi menurutku mau jadi apapun memang wanita itu sah-sah saja, asalakan dia kembali dan tidak lupa pada kodratnya, wanita yang mulai dengan menjadi seorang istri dan ibu yang bertangung jawab dan aku sendiri, aku bukan tipe wanita yang gila kerja, tapi aku gila karir, bagaimana maksudnya itu. Aku ingin menjadi pekerja dirumah bersama anak-anak dan suamiku kelak, aku paling benci memakai baju jas dan sepatu  hak lalu pergi pagi pulang petang, aku tidak suka kerja kantoran. Tapi aku ingin tetap berpenghasilan. Aku ingin menjadi penulis yang tetap menghasilkan walaupun tinggal dirumah dan dalam setiap doaku aku selau mendoakan agar Allah mengirim lelaki yang tidak membuatku harus kerja kantoran dan mendukung hobiku.
Lelaki dimasa depan itu. Lelaki yang menawarkan surga, mendekatkan surga, menebarkan cinta surga, cinta surga, perasaan yang sederhana tapi membimbing. Dimana bisa aku temukan orang seperti itu? Atau apakah orang seperti itu bisa menemukanku. Aku terhenti pada pertanyaan yang belum kutahu karena.
Mengingat pembahasan itu, pikiranku lansung kepada orang itu, orang di dunia bayangan itu, ada celah angin yang memaksa masuk dalam jendela yang telah kukunci, menyelinap diantara angin siang, sepertinya itu angin rindu. “Ah, andai orang itu ada didunia nyata, bukan dunia bayanganku. Orang itu masih sama, orang yang sama dalam ceritaku dulu, abang yang unik dan sok banyak tahu, meskipun dia tahu. Aku sudah mengenal dia cukup lama, meski dengan komunikasi yang masih bisa dihitung jari. Kami jarang  komunikasi dengan alasan dia yang sedang sibuk dengan dunianya, mematikan hape dan fokus belajar di sebuah pesantren. Dalam komunikasi hitungan jari itu, aku mengenal dia, mengenal dari satu persatu kata-katanya. Dia menyenangkan, membimbing,dan aku mulai tahu kenapa dia begitu mudah disukai, dikagumi, atau bahkan dicintai. Tidak peduli aku yang mungkin terlalu dini untuk menvonis, tapi yang aku tahu, dia punya pesona itu. Tapi dia bagiku masih dalam dunia bayangan, dan aku adalah orang yang takut menarik dia dalam dunia nyataku, takut karena aku belum siap dalam dugaanku, dugaan yang akan membuat aku jatuh.
“Adek Trauma?


Untuk Sebuah Cinta

Untuk Sebuah Cinta Minggu 11 Maret 2018 Aku keumala, pemilik sisa rasa Aku Keumala pemilik rindu tanpa aroma Aku keumala pad...