Minggu, 30 September 2018

Menjadi Dewasa




Menjadi dewasa adalah pilihan, namun boleh aku bertanya season keberapa dalam hidup yang menunjukkan seorang anak gadis telah benar-benar menjadi dewasa seutuhnya? Apakah dia yang telah bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah dengan tuntas, menggapai mimpinya, ataupun mereka yang telah menikah dan mempunyai anak ataukah mereka yang telah bijak memaknainya kehidupan.

Tapi kukira dewasa bukan hanya tentang itu saja, dewasa adalah ketika kita berani gagal dulu ketika kita sedang mencoba, kemudian bangkit lagi dan terus bangkit lagi, kemudian mencoba lagi, terus mencoba hingga kita bisa, bisa memaknai kehidupan dan bisa memberikan sesuatu dalam kehidupan singkat ini. Intinya dewasa itu adalah bijak dalam memaknai sebuah kekalahan, kegagalan dalam kehidupan lalu belajar dari itu semua, kemudian terus berusaha, mencoba dan mencoba lagi hingga berhasil, hingga bisa. Selamat berproses menjadi dewasa.

Minggu, 23 September 2018

Cerita Bersama Hujan di Awal Muharram 1440

Hujan sepanjang malam tadi sudah mulai berhenti, malam pekat sebentar lagi akan berganti dengan cahaya fajar. Sayup suara Azan mulai terdengar dari surau-surau di desaku, dan beberapa mesjid di sekitarnya. Subuh mulai datang, tapi hari ini aku sedang absen kewajibanku. kuputuskan untuk memulai ceritaku. Ceritaku yang sudah dari sejak hujan tadi malam kembali terkenang dan iya, yang terkenang itu adalah kenangan. Kenangan bersama waktu.
Hari itu, rona-rona merah bahagia meskipun samar-samar jelas dirasakan dan ditularkan dari pasangan baru itu, teman satu ruang dan seperjuangan kami itu resmi melepas statusnya dari jomblo menjadi gak jomblo lagi, hujan mengiring perjalanan pulang dan pergi kami dan melewati daerah itu, daerah yang jaraknya tidak begitu jauh dari tempatku tinggal tapi begitu jarang aku kembali sejak hampir empat tahun yang lalu aku mengambil ijazah kelulusan disana. Ah, benar saja aku rindu.
setelah melepas mukena dari mesjid itu, mesjid yang empat tahun yang lalu hanya aku lewati saja, karena iya saat itu aku tidak memiliki alasan untuk shalat dalam mesjid itu, kan, aku bisa shalat di dayah. Tapi sekarang karena perjalanan pulang itu melewati jalannya aku pun singgah disana.
Hari itu, masih tujuh hari masuk Tahun baru, di pertengahan bulan September, bulan Hujan. Aku melirik keseitar, hujan masih gerimis. selepas sedikit bermunajat aku mengambil hapeku kubuka pencarian nama "Nurul" salah seorang teman SMA ku yang sering berkomunikasi denganku di awal bulan enam kemarin meski sudah hampir empat tahun tak sekali pun bertatap lagi, aku memutuskan untuk menemuinya yang katanya dia sekarang menjadi penjual molen di depan mesjid itu.
perjumpaan itu agak histeris, karena kami sama-sama lebay, beda dengan DekTa, sahabatku yang juga tadi aku temui dirumahnya. Sekarang dia sudah memiliki keluarga kecil, dengan anak lelaki yang manis, dia cenderung kalem. lain dengan Nurul yang memelukku histeris.
"Rinduu.." katanya yang tidak pedul dengan tatapan orang disekitarnya. Aku juga sama, tidak kalah lebay hingga membuat Nisak nyengir-nyengir sendiri ketika melihat adegan kami. kurasa dia juga paham menyaksikan itu, karena katanya dia juga pernah merasakannya.
Gerimis yang tadinya berubah menjadi hujan. Hujan yang lebat yang menemani obrolan kenangan kami, Nurul banyak bercerita tentang teman-teman masa SMA dulu dan juga kisah cinta barunya. Ah, anak itu masih juga sama, sering terlibat dengan hubungan yang tanpa tepi. Hujan sore itu seolah ingin mengulang banyak kenanganku disana. Satu persatu teman lamaku lewat dan kembali menyapa dengan tampilan barunya, meskipun bukan teman satu kelas, tapi kami dulu pernah begitu dekat, dan juga orang itu, Ms.Chairil sekarang sudah mulai berjualan baju di belakang tempat kerja Nurul, beliau tersenyum manis kearah kami. Masih manis iya, karena memang beliau orangnya manis. Hehe.
Perjalanan kembali ke area dayahku, Nisak menguatkanku untuk masuk area dayah itu, meski agak berat namun aku memberanikan diri bertemu dengan Waled lagian apa salahnya bertemu waled, "Aku sudah begitu rindu..."
Disana aku bertemu dengan mereka anak-anak balai seperjuanganku yang masih tetap tinggal di dayah, mereka banyak berubah, memang kekuatan waktu mampu segalanya, mengubah banyak hal. bocah-bocah cilik yang dulunya sering manja dan tidur di depan balai kini, berubah menjadi muslimah-muslimah yang manis. Tapi, tetap gaya mereka masih sama meskipun agak terpolesi sedikit.
Hujan sore itu juga mempertemukanku pada keluarga baru, Ummi Serdang dan kehiduapnnya yang serdehana, cucunya yang sederhana yang seketika membuatku takjub dan merasa begitu hangat. kehidupan yang biasa-biasa saja namun sakinah, mawaddah warahmahnya begitu terasa, halus dan sejuk sekali diantara tiada kesempurnaannya kehidupan seorang manusia biasa.Tapi mampu membuatku gerimis beberapa kali ketika mendengar omongan beliau.
"Ohya, hari itu aku juga begitu bahagia, Aku punya keluarga baru, umi mengatakan aku seperti anaknya dan beliau seperti orang tua" yang tentu satu perasaan syukur dan bahagia mendengarnya, bisa menjadi bagian dari keluarga itu. Lagi-lagi gerimis bahagia yang kusembunyikan ini turun tidak terbendung, padahal baru sehari aku disana. Benar kata bang Taufik, diangkat menjadi keluarga oleh seseorang itu membuat kebahagiaan, apalagi oleh Umi, Masya Allah.
Tahun baru Hijrah ini, seperti simbol-simbol dan tanda kekuatan Hijrahku dari Allah, ternyata ada banyak hal yang keliru dari yang selama ini aku bayangkan dan menyambung silaturrahmi adalah hal yang paling membuat kita bahagia. Semoga Allah selalu menjaga kita dalam keistiqamahanNya.

Muharram 1440 H


Muharram 1440 H

Nuansa sendu dengan gerimis adalah permulaan hari ini, meski aku sempat goyah dengan istiqamahku di awal pagi karena terlalu terlalu telarut di malamnya, aku masih harus bersyukur tentang banyak hal di hari ini. Hari ini dengan kejadian yang mungkin beberapa agak lucu  dan menyebalkan. Tapi, tetap membawa angin bahagia, angin perasaan damai melepas tahun ini, melepas tahun 1439 H, menjadi 1440 H.
Balon dilepaskan di udara islamic center, tanda semua harapan tentang tahun yang lalu sudah ikut terbang, sekarang udara baru untuk balon-balon yang baru. Pawai-pawai bocah-bocah kecil itu menyeramakkan pelepasan tahun ini dengan lantunan selawat di sepanjang jalan Lhokseumawe, ini impianku dari dulu ditahun-tahun sebelum ini, menjadi ustazah yang modern, Ustazah aswaja yang modern yang pernah aku uraikan dalam buku merah itu sewaktu aku masih tinggal dan berjuang di salah satu tempat terpenting, terindah dalam hidupku, tempat yang menempaku menjadi manusia kuat, kuat mental dan InsyaAllah kuat iman.
Selepas azan magrib tadi resmi, kenangan masa lalu ditutup di tahun yang lalu, semua luka-luka pilu di tahun yang lalu telah hilang. Aku memutuskan untuk berhenti melukai diriku  sendiri. Dengan sefatku yang sering suka menila orang lain gampangan, terlalu santai dengan beberapa hal yang tidak seharusnya dibuat santai, dan terlalu sibuk dalam dunia imajiku. Aku ingin hidup bahagia dengan impianku, dengan sesuatu yang aku mau yang diridhai Allah, hidup dengan penuh makna. Melalukan apa yang aku suka selama itu tidak bertentang dengan ajaran Rasulku. Aku ingin hidup lebih bahagia denga melihat mereka pun bahagia.Rasanya dengan semua itu, meskipun kita capek, lelah tapi kita bahagia.
Seperti yang aku rasakan malam ini, ternyata bahagia itu sesederhana ini, kta hanya perlu berjalan dengan menjadi diri kita sendiri, tanpa harus menjadi orang lain. Selama itu tidak menyakiti orang kenapa tidak kita harus menyembunyikan diri kita sendiri. Apa yang suka, lakukanlah, tapi yang paling penting kita kita harus tahu apa kita inginkan bisa bermanfaat untuk banyak orang yang akan membawa manfaat untuk kehidupan yang selanjutnya.
Hari ini adalah hari pertama kuliah, aku masih telat sih, dihari pertama. Tapi aku akan memastikan ini adalah telatku yang pertama di semester ini dan terakhir. Insya Allah dan hari ini adalah hari yang sibuk karena dari pertama aku membuka mataku, aku dengan rentetan pikiran dan pekerjaan tapi tidak seperti biasa, aku lelah tapi aku merasa bahagia, merasa angin-angin kedamaian menembus merdu dari ujung hatiku. Karunia Allah, karena yang aku lakukan hari ini adalah karena aku mencintai ini, meskipun aku juga pernah melakukan hal yang seperti ini sebelumnya,tapi jujur hari ini badai angin bahagia menyelesup. Aku ingin istiqamah dalam kebaikan tahun ini.
Istiqamah dalam berhijrah untuk mencari Ridha Alla adalah tema tahun ini. Aku ingin menyelesaikan studiku tahun ini, menemukan imam shalih untuk menggenapkan separuh agamaku, menabung untuk membawa kedua orang tua ke Mekah dan Madinah. Aku ingin melihat kakak menikah dan pesta dan abang bahagia, adik-adik yang selalu tersenyum.

Selamat Tahun Baru 1440 H.
Semoga Istiqamah

Perjalanan Menuju CintaNya (Part I)

         Perlahan namun pasti, aku mulai menemukan jalan hidupku. Setelah terombang-ambing dengan tujuan aku berada di dunia ini untuk apa,...