Minggu, 23 September 2018

Cerita Bersama Hujan di Awal Muharram 1440

Hujan sepanjang malam tadi sudah mulai berhenti, malam pekat sebentar lagi akan berganti dengan cahaya fajar. Sayup suara Azan mulai terdengar dari surau-surau di desaku, dan beberapa mesjid di sekitarnya. Subuh mulai datang, tapi hari ini aku sedang absen kewajibanku. kuputuskan untuk memulai ceritaku. Ceritaku yang sudah dari sejak hujan tadi malam kembali terkenang dan iya, yang terkenang itu adalah kenangan. Kenangan bersama waktu.
Hari itu, rona-rona merah bahagia meskipun samar-samar jelas dirasakan dan ditularkan dari pasangan baru itu, teman satu ruang dan seperjuangan kami itu resmi melepas statusnya dari jomblo menjadi gak jomblo lagi, hujan mengiring perjalanan pulang dan pergi kami dan melewati daerah itu, daerah yang jaraknya tidak begitu jauh dari tempatku tinggal tapi begitu jarang aku kembali sejak hampir empat tahun yang lalu aku mengambil ijazah kelulusan disana. Ah, benar saja aku rindu.
setelah melepas mukena dari mesjid itu, mesjid yang empat tahun yang lalu hanya aku lewati saja, karena iya saat itu aku tidak memiliki alasan untuk shalat dalam mesjid itu, kan, aku bisa shalat di dayah. Tapi sekarang karena perjalanan pulang itu melewati jalannya aku pun singgah disana.
Hari itu, masih tujuh hari masuk Tahun baru, di pertengahan bulan September, bulan Hujan. Aku melirik keseitar, hujan masih gerimis. selepas sedikit bermunajat aku mengambil hapeku kubuka pencarian nama "Nurul" salah seorang teman SMA ku yang sering berkomunikasi denganku di awal bulan enam kemarin meski sudah hampir empat tahun tak sekali pun bertatap lagi, aku memutuskan untuk menemuinya yang katanya dia sekarang menjadi penjual molen di depan mesjid itu.
perjumpaan itu agak histeris, karena kami sama-sama lebay, beda dengan DekTa, sahabatku yang juga tadi aku temui dirumahnya. Sekarang dia sudah memiliki keluarga kecil, dengan anak lelaki yang manis, dia cenderung kalem. lain dengan Nurul yang memelukku histeris.
"Rinduu.." katanya yang tidak pedul dengan tatapan orang disekitarnya. Aku juga sama, tidak kalah lebay hingga membuat Nisak nyengir-nyengir sendiri ketika melihat adegan kami. kurasa dia juga paham menyaksikan itu, karena katanya dia juga pernah merasakannya.
Gerimis yang tadinya berubah menjadi hujan. Hujan yang lebat yang menemani obrolan kenangan kami, Nurul banyak bercerita tentang teman-teman masa SMA dulu dan juga kisah cinta barunya. Ah, anak itu masih juga sama, sering terlibat dengan hubungan yang tanpa tepi. Hujan sore itu seolah ingin mengulang banyak kenanganku disana. Satu persatu teman lamaku lewat dan kembali menyapa dengan tampilan barunya, meskipun bukan teman satu kelas, tapi kami dulu pernah begitu dekat, dan juga orang itu, Ms.Chairil sekarang sudah mulai berjualan baju di belakang tempat kerja Nurul, beliau tersenyum manis kearah kami. Masih manis iya, karena memang beliau orangnya manis. Hehe.
Perjalanan kembali ke area dayahku, Nisak menguatkanku untuk masuk area dayah itu, meski agak berat namun aku memberanikan diri bertemu dengan Waled lagian apa salahnya bertemu waled, "Aku sudah begitu rindu..."
Disana aku bertemu dengan mereka anak-anak balai seperjuanganku yang masih tetap tinggal di dayah, mereka banyak berubah, memang kekuatan waktu mampu segalanya, mengubah banyak hal. bocah-bocah cilik yang dulunya sering manja dan tidur di depan balai kini, berubah menjadi muslimah-muslimah yang manis. Tapi, tetap gaya mereka masih sama meskipun agak terpolesi sedikit.
Hujan sore itu juga mempertemukanku pada keluarga baru, Ummi Serdang dan kehiduapnnya yang serdehana, cucunya yang sederhana yang seketika membuatku takjub dan merasa begitu hangat. kehidupan yang biasa-biasa saja namun sakinah, mawaddah warahmahnya begitu terasa, halus dan sejuk sekali diantara tiada kesempurnaannya kehidupan seorang manusia biasa.Tapi mampu membuatku gerimis beberapa kali ketika mendengar omongan beliau.
"Ohya, hari itu aku juga begitu bahagia, Aku punya keluarga baru, umi mengatakan aku seperti anaknya dan beliau seperti orang tua" yang tentu satu perasaan syukur dan bahagia mendengarnya, bisa menjadi bagian dari keluarga itu. Lagi-lagi gerimis bahagia yang kusembunyikan ini turun tidak terbendung, padahal baru sehari aku disana. Benar kata bang Taufik, diangkat menjadi keluarga oleh seseorang itu membuat kebahagiaan, apalagi oleh Umi, Masya Allah.
Tahun baru Hijrah ini, seperti simbol-simbol dan tanda kekuatan Hijrahku dari Allah, ternyata ada banyak hal yang keliru dari yang selama ini aku bayangkan dan menyambung silaturrahmi adalah hal yang paling membuat kita bahagia. Semoga Allah selalu menjaga kita dalam keistiqamahanNya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menjadi Dewasa

Menjadi dewasa adalah pilihan, namun boleh aku bertanya season keberapa dalam hidup yang menunjukkan seorang anak gadis telah benar-...