Kamis, 21 Juni 2018

Perasaan Tanpa Tepi



Malam ini langit begitu ceria, bintang-bintang berkelap-kelip riang diatasnya dengan bulang sabit yang bergantung syahdu diatasnya. Dibawah cahayanya dan cahaya lampu remang-remang aku duduk di depan teras rumahku, sembari sebuah buku bacaan tentang waktu ditanganku. Lampu teras membantuku untuk mengenali jelas kata-kata yang aku baca yang mambuat aku sempat terlarut di dalamnya. Kali ini aku sedang sibuk membaca tentang kisah para sufi dengan kezuhudannya dan kisah seorang muslimah yang begitu teguh menjaga marwahnya sebagai seorang muslimah, dan yang terakhir kisah seorang ayah yang bangsawan yang menikahkan anaknya dengan seorang budak yang begitu jujur, air mataku banjir ketika itu, betapa aku kagum dengan dengan sifat hamba sahaya itu, yang menjaga amanah, dia sebagai penjaga kebun dan yang mengurusnya tapi dia sama sekali tidak menyentuh buah-buah yang ada dalam kebun itu, hingga suatu hari tuannya datang meminta sebuah buah yang paling manis dia memberikan buah yang ternyata asam dan ketika tuannya  bertanya, kenapa dia memberikan buah terseut, dia berkata bagaimana bisa dia mengetahui mana buah yang paling manis dan yang paling asam karena dia hanya beramanah untuk menjaganya dan mengolah kebun tersebut bukan untuk memakannya. Dia amat takut dengan Allah. Tanpa pikir panjang pun dia dijodohkan dengan anaknya yang sudah begitu banyak dilamar oleh para penguasa yang lainnya.
Mataku berkunang-kunang membaca kisah itu, kimanan dan kataqwaan seorang hamba sahaya itu menaikkan derajatnya dunia akhirat. Aku masih mengusap air mataku ketika seorang menyapaku di depan.
“Ra...” Aku menoleh dan mendapati sosok tubuh tegap yang memiliki kulit sawo matang berdiri di hadapanku, tersenyum begitu manis di hadapanku.
Aku segera mengusap air mataku, menetralkan diri kembali dan menutup buku yang sedang aku baca. “Eh, Arif, piyoh ”Kataku menyuruh dia untuk mampir. Arif segera mendekat dan duduk di kursi panjang terasku yang terbuat dari kayu dan berbentuk panjang itu. Dia tidak berubah, senyumnya masih senyum manis terindah seperti dulu, dan kulitnya meskipun sawo matang sama sepertiku, bedanya dia lebih bercahaya, dengan balutan kemeja koko berwarna manggis yang dijahit oleh ayahku musim lebaran yang lalu malah dia terlihat semakin mempesona.
“Ada dosa kita? “ Dia mulai membuka percakapan ketika duduk dengan jarak yang dijauhkan dariku.
Aku tersenyum, “Kop banyak..”
“Kalau begitu salim dulu lah..”
“Gak boleh salam-salaman...”
“Kan pake hijab, dilapisi lah..”
“Hehe, aku hanya tersenyum nyengir,  lalu bersalaman dengannya dengan melapisi tanganku dengan jelbab yang sedang aku gunakan.
“Minal aidhin wal faidhin...” Kataku yang tersenyum sedikit.
“Mohon maaf lahir dan batin..” Sambungnya.
Sejenak setelah itu, suara jangkrik yang belum datang mengapeli malam seolah berbunyi. Sunyi sebentar. Sepertinya baik aku dan dia sedang saling sibuk dengan pikiran kami masing-masing.
“Rizal tidak ada dirumah ya? Kemana dia?” Dia mulai membuka pertanyaan, bertanya tentang temannya yang tinggal disamping rumahku, abang sepupuku.
“Oo kurang tahu, sepertinya iya, dia lagi ketempat saudaranya mungkin”
“Oohh..”
Aku tahu seperti biasa, dia tidak dengan tujuan khusus untuk mampir kerumahku meskpiun kadang-kadang ada yang berbisik dihatiku, kalau dia sengaja datang kerumahku dengan beberapa bukti yang kadang mendukungku, tapi lagi, hatiku bertanya untuk apa dia sengaja? Lagian aku siapa? Atau kalau sengaja kenapa? Bukankah kami hanya teman?
Iya, Arief adalah temanku, teman SD ku, hanya dia satu kelas dengan abang sepupuku, Rizal dan aku adik kelasnya. Tapi, kami sempat satu kelas di diniyah atau pengajian siang sewaktu SD dulu, itu karena aku yang  mendapatkan keberuntungan yang dilompatkan kelas oleh Tengku hingga kami bisa satu kelas. Kami juga satu kampung, tapi beda dusun. Baik aku dan dia sudah lama saling mengenal sejak dulu. Awalnya kami tidak begitu akrab tapi semenjak aku dan dia sama-sama masuk pesantren dan dia sering kerumah bang Rizal kami sering berbicara bercerita-crita tentang pengalaman masing-masing. Mungkin disitulah kami mendapatkan kecocokan untuk berteman, Arief adalah orang yang peduli dan suka mengangkat tema-tema yang menarik ketika sedang mengobrol dengannya, orangnya asik dan gaya bahasanya renyah, orangnya humoris tapi humornya berkualitas dan bukan tentang kuantitas saja dia bisa mengangkat tema yang tidak garing dari apapun bahkan dari politik, ekonomi bahkan sosial, anak itu memang banyak tahu, tapi tidak nampak sok.
Dia kadang bak penceramah yang sedang mengingati jamaahnya dengan gaya yang khas, tapi tidak seperti menggurui, darinya pembahasan itu menjadi renyah karena kami sering lari-lari dari satu topik ke topik yang lainnya lalu kembali ke topik lain lagi atau bahkan hingga sampai membahas tentang isu-isu akidah yang terjadi hari ini, tentang isu aliran yang menyesatkan yang sedang gencar-gencarnya menyerbu media saat ini. Dia juga memberikan tanda-tandanya, agar aku tidak terpengaruh dengan ajaran itu yang katanya itu rawan sekali terjadi pada anak kuliah yang pondasi keimanannya gak kuat.
“Sepertiku misalnya..” Aku menyahut sekenanya dengan sedikit tersenyum.
“Tidak, tidak aku tidak bermaksud sepertimu ustazah, kan ustazah itu lulusan Salafi” Dia lansung menyangkal agar aku tidak salah paham, dan dia suka sekali memanggil aku dengan panggilan ustazah.
“Hahaha..iya ya, aku bercanda kok, doa darimu agar aku bisa selamat dunia akhirat”. Aku menjawab dengan sedikit tertawa.  Aku suka melihat Arief, dia santri yang cerdas dan kurasa kritis, dan penuh dengan retorika. Cara dia berbicara dengan penuh retorika dan menjelaskan dengan tanpa menggurui membuatku sekilas nyaman berbicara dengannya. Pantas saja dia dari dulu dikenal pintar selain juga sekarang adalah tercatat sebagai santri di sebuah dayah  terbesar di Provinsiku. beruntung rasanya aku mempunyai teman seperti dia.
Teman. Iya aku menyebutnya begitu, aku merasa nyaman ketika berbincang-bincang dengannya, tapi hubungan itu masih dalam batas teman, aku tidak menyebutnya lebih.  Hingga pada suatu hari yang telah lewat, sebuah kabar berita yang aku dengar dari abang sepupuku.
“Ra, Arief sepertinya menyukaimu? Kamu sama dia aja ya”
Aku menngernyitkan kening, sedikit nyengir, masih tidak begitu fokus dengan perkataan anak itu, aku tahu banyak perkataan yang keluar darinya itu dhaif atau bahkan mauhduk.
“Kamu tidak percaya? Kali ini aku serius, katanya kamu itu cewek idamannya, tinggi dan pintar...” Anak lulusan fakultas teknik kimia di sebuah kampus terkenal di kota ini seperti meyakinkan, tapi aku masih saja kurang yakin.
“Kamu ngomong apa Bang Jal, Kamu cemburu ya..?” Aku mencoba menjawabnya sekenanya, yang sebenarnya menyembunyikan rasa gugupku.
“Aih.. cemburu, kayak gak ada orang lain aja dicemburuin di dunia ini” Dia berkata dengan bibir sedikit dinaikkan keatas ku dan aku hanya tertawa lucu melihatnya.
“Tapi benar Ra, dia suka kepadamu, calon istri idaman masa depan katanya, tapi aku heran kenapa dia suka sama kamu, kamu pake doa apa sih? Dia salah mata kayanya, orang jelek gini dibilang manis..wkwkwk” Dia tertawa penuh mengejek.
Aku kesal dibuatnya, enak saja mengataiku. Mentang-mentang dia putih dan sedikit bermuka “Jelek-jelek gini tapi banyak yang antri lho..” Ada yang berontak ketika aku mengatakan itu. Siapa yang antri?
“Iya banyak yang antri, ya orang-orang salah mata kayak Arief itu contohnya” Dia menyahutinya lagi.
“Siapa Jal? Arief suka sama Rara? Kok gini kali tipe dia?” Kata Bang Rehas, abnag kandungku menimpali yang tidak kalah menjengkelkan itu. Sialan punya dua abang, dua-duanya nyebelin. Asli, aku hanya manyum saja, tidak menjawab apa-apa, ingin rasanya aku bocori kalau salah satu Tengkunya di dayah yang sering datang kerumahku, sering menghubungiku, bahkan mengajakku untuk serius. Pake gombalan terasi lagi, untung saja aku masih punya pertahanan hati yang masih alhamdulillah bagus, yang menyerap tiap kata-kata dan hubungan yang ada agar tidak mudah baper. Karena aku cukup tahu watak cowok dari dua orang lelaki di depanku ini selain juga aku tidak mau menjatuhkan derajat Teungku atau gurunya abang kandungku.
Pembahasan lebih dari lima bulan yang lalu yang kadang-kadang sering diulang-ulang dan menjadi bahan olok-olokkan oleh keluargaku, tapi aku anggap biasa saja. Bagiku Arief masih menjadi temanku, teman yang baik, aku tidak ingin terlalu baper dan mengambil hati dalam komunikasiku dengannya. Apalagi Arief punya segalanya untuk membuat hati wanita dan calon mertua terpaut. Dia ganteng, tinggi, pintar plus dari keluarga berada. Sedangkan aku adalah lawan dari definisinya. Bahkan menurut cerita dari bang Rijal shabat dia dari kecil itu, katanya pernah ada Emak-emak yang mau menjodohkan dia dengan anak gadisnya yang cantik jelita di ketika mengikuti safari dakwah Ramadhan di sebuah kota di ujung provinsiku dan aku sering juga mengintip-intip media sosialnya, saat status dia melayang di udara, bersiap-siaplah melihat para cewek-cewek dari berbagai macam levelnya berkomentar, dari yang anak kesehatan, sampai ukhty-ukhty, bahkan untuk status kacang goreng sekalipun, tapi dia jarang sekali menggubrisnya, hanya komentar penting dari teman-temannya yang dia balas. Lagi itu kontra sekali dengan diriku. Ah, aku akan menjadi korban FTV di SCTV jika sampai aku berpikiran Arief menaruh perasaan lain kepadaku.
Ia, Arief memang terlihat seperti namanya, seperti malam ini. Aku sempat memerhatikannya sejenak ketika membawakan minuman kehadapannya dikuti dengan adik kecil ku di teras depan rumahku itu. Senyumnya masih manis juga sikapnya yang mudah dekat dengan orang lain bahkan adik kecilku yang berumur tiga tahun itu menyukainya, sehingga kadang aku seperti berharap perkataan bang Rizal yang sering membawa berita palsu itu shahih. Haha, bukan karena lain, sepertinya derajatku akan naik kalau sampai dicintai oleh orang seperti itu,  Tapi, aku berusaha mengontrol perasaanku, mengontrolnya agar dia tidak terlalu terbang tinggi, karena jika nanti terhempas maka akan sakit, sakit woyy. Aku memutuskan untuk kemabali ke dunia nyata.
Tapi yang aku sukai dari berbicara dengannya adalah aku menjadi diriku sendiri bahkan kadang-kadang aku bisa membuang jauh kata-kata bang Rijal itu, sehingga tidak ada istilahnya jaim atau jaga image didepannya. Satu jam terasa begitu cepat berlalu karena merasa tidak enak, dia pun pamit. Mamak mulai bereaksi dari dalam, beliau keluar untuk sedikit berbasa-basi dengan Arief, dari semua yang paling exicted mendengar kabar dhaif dari bang Rijal adalah Mak. Bagaimana tidak, seperti penjelasan tadi, sudah aku sebutkan dalam definisi tadi, Arief adalah calon mantu idaman. Termasuk Mamak.
“Oa, lusa Insya Allah aku bawakan majalahnya ya!”
“Iya, aku pinjam ya” Kataku yang cukup senang, karena tahu dia memiliki koleksi majalah itu yang beberapa bulan yang lalu kulihat di rumah temanku, rasanya ingin sekali aku membacanya dan Arief akan meminjamkannya.

                                                            ****************
Hari itu lebaran kelima, hujan mengguyur desa kecilku. Tidak seperti yang lain yang memanfaatkan lebaran untuk jalan-jalan aku malah lebih bahagia lebaran tinggal dirumah dan mengambil kesempatan untuk tidur. Yah, ditemanin dengan buku-buku novel dan majalah-majalah atau bahkan hapeku, rasanya cukup membuat aku nyaman. Tidak, tentu aku juga tidak melewatkan momen silaturrahmi di hari lebaran, tapi itu kulakukan di hari lebaran pertama, aku memilih putar-putar keliling tempat saudara di hari lebaran pertama untuk bisa beristrihat di hari lebaran selanjutnya yang ternyata masih tidak bisa, pasalnya dari lebaran pertama dan keempat ada saja yang bertamu kerumahku, meskipun harus aku akui, aku yang berubah menjadi waitress dadakan yang harus menyiapkan minuman atau menyiapkan makan siang, dan kecapekan, tapi jujur dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku larut dalam senang dan terharu, Alhamdulillah setidaknya ada yang masih mau berkunjung kerumahku.hehe...
Tapi yang membuat aku jengkel adalah, mayoritas dari semua tamu yang datang itu adalah keponakan dari ayah dan mamak, yang sudah menikah yang diantaranya ada adik sepupuku yang tuaan aku hany beberapa bulan dan dia sudah menikah dan punya anak. Sehingga mamak berujar lengkap dengan gaya khas emak-emak yang pingin cepat dapat mantu.
“Sibuk dengan menantu orang aja lebaran, menantu sendiri entah kapan datang, entah siapa yang mau sama ini anak..?” Kata Emak sambil melirik ke arahku yang sedang ingin membawakan minuman kedepan untuk tamu.
Saat seperi itu, rasanya nampan yang akan kuisi dengan gelas-gelas minuman itu ingin sekali aku kunyah karena sektika berubah menjadi kerupuk.
 “Mak anakmu masih semester enam, masih pingin ngajar, lagi pusing proposal, please mak ngerti,ngerti! Suara batin yang terpendam biar durhakanya berkurang sedikit karena tidak menyahuti Mak, takut mampus kena kutukan.
Dan hari itu, liburanku pun datang, setelah menerima tamu yang aku harap adalah tamu terakhir hari ini tadi pagi setelah shalat Dhuhur langit mulai mendung, aku rasa sebentar lagi langit akan menangisi kejombloanku, menangisi setengah meledek, haha..Aku tidak sengenes itu lagi. Aku Jofisa yang sedang berusaha memperbaiki diri untuk pangeran idaman, hoho...
Jam tiga lewat, adik lelakiku masuk kekamarku sambil menaruk dua buku diatas kasurku. Aku sempat membuka mata, melihatnya, ada tulisan umdah disana, aku sedikit tersenyum kemudian lanjut tidur lagi. Aku tahu mungkin Arief telah datang membawa majalah itu untukku. Ada yang berbisik agar aku bangun saja dan mengucapkan terimakasih, karena pasti Arief pasti masih dirumah bang Rijal. Tapi, suasana gerimis membuat aku melanjutkan memeluk guling dan tidur lagi.
Malamnya setelah makan malam aku mulai mengambil majalah itu, aku membuka halaman per halaman buku itu, hingga pada halaman terakhir. 
Selamat membaca, dan
#Bantu aku mengeja perasaan yang bertumbuh liar ini.
Aku tersentak membaca kalimat ini, perasaan apa maksudnya, hatiku ingin terbang jauh, tapi kupaksa untuk tetap tinggal dibumi, meskipun sepertinya dia tetap memaksa memecahkan perintahku, hingga akhirnya aku terpaksa mengizinkannya untuk terbang, tapi dengan pesan jangan jauh-jauh, aku takut jatuh dan tehempas sakit.
Hapeku sudah dari tadi berdering, karena aku baru saja mangaktifkan paket dataku, beberapa pesan grub masuk, terlalu banyak grub dan beberapa pesan konyol dari teman-teman gila dan anehku. Aku belum sempat membacanya kadang aku lansung menghapusnya kecuali untuk beberapa pesan grub yang penting, seperti pesan grup pengajian aswaja dan grub kepenulisan yang menuntuk tugas itu yang akan kuprioritaskan untuk membacanya.
Dan diantara pesan WA itu aku melihat pesan dari Arief yang dari dua hari yang lalu tidak putus-putus. Padahal hanya pembahasan konyol dan tidak jelas bahkan terkadang seperti dipaksakan, beda sekali dia  lewat pesan chat dan bertemu lansung.
“Oa Arief, Terimakasih ya majalahnya”.
Aku melihat tiba-tiba dia online dan lansung mengetik. “Sama-sama”
“Ini kapan aku kembalikannya” Aku mulai mengetik lagi dengan perasaan yang tidak menentu dan kulihat dia juga sedamg mengetik.
”Oa itu tidak usah dikembalikan, itu hadiah untuk kamu ”.
Aku kembali tersentak mebacanya. “Serius?
“Dua rius..”
“Tapi Arief aku merasa tidak enak, kan kemarin aku minta pinjam..”
“Kok gak enak ? orang biasanya senag dapat hadiah..udah terima aja gak apa-apa”.
“Tidak usah merasa sungkan, aku senang memberimu hadiah kok”

Aku mulai meletakkan hape dan mataku mulai terhenti pada kalimat itu, majalah sederhana itu tampak masih baru, dan aku mulai membaca lagi kata-kata itu yang dari tadi memberi sayap kepada hatiku untuk terbang, dia sudah terbang, tidak bisa ku elak, Arief mempunyai pesona itu dan siapa yang tidak terpesona. Sekuat-kuatnya aku menjaga hati ternyata aku juga goyah. Ternyata benar, hati perempuan itu seperti air dalam baskom yang mulanya tenang tapi jika disentuh air yang tenang itu menjadi akan bergerak dan goyah.
Tidak, tidak, aku tidak serapuh itu, ku tarik paksa kembali hatiku yang sedang terbang itu untuk masuk ke tempatnya lagi, ku tatap sekali lagi tulisan Arief itu, aku mulai menarik nafas panjang. Aku tidak akan mengejanya, aku tidak akan peduli perasaan apa yang dia maksud, aku tahu perjalanan Arief masih panjang, dan aku juga masih tidak ingin terburu-buru, aku masih ingin menikmati hubungan pertemanan yang saling mengigati itu, dan yang terpenting aku tidak ingin jatuh pada perasaan yang bukan pada seharusnya dan aku tidak ingin terjebak dalam sebuah perasaan tanpa tepi karena perasaan itu yang didefinisikan cinta adalah sebuah perasaan suci yang tidak boleh dinodakan dengan halusinasi, itu syaithan perantaranya, karena cinta itu sebenarnya adalah perasaan suci yang diikad dengan dengan janji suci melalui akad yang sakral di depan wali dan saksi.


Keude Klep, 20 Juni 2018
Ra





















































Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Perjalanan Menuju CintaNya (Part I)

         Perlahan namun pasti, aku mulai menemukan jalan hidupku. Setelah terombang-ambing dengan tujuan aku berada di dunia ini untuk apa,...