Minggu, 15 April 2018

Senja di Tengah Malam




Aku berada disebuah tempat, tempat itu terasa begitu nyaman, seorang  adik perempuan yang membawaku ke tempat ini, dia adik perempuan yang baik, ramah dan setiap kali melihat senyumannya aku damai, keramahan dan kebaikannya membuat aku nyaman dengannya, membuat kami dekat dan lebih dekat, padahal dia baru kukenal dibeberapa bulan yang lalu, saat dia menemani sepupunya yang merupakan teman dari sepupuku yang bertamu kerumah sepupuku, obralan ringan tapi bermakna membuat kami bisa dekat hingga kami seperti saudara yang biasanya aku sulit untuk dekat dengan orang yang baru tapi tidak dengannya. Apalagi belakangan kuketahui kalau dia seorang Hafidhah.
Dari jauh aku melihat langit yang bewarna agak kemerah-merahan, jingga, tepatnya. Sinar matahari tidak lagi terang. Di ufuk Barat matahari seperti akan bersiap untuk istirahat, pertanda hari akan segera berlalu, dan malam akan segera datang.  Tidak jauh dari tempatku berdiri disana berjejer rapi bangunan kayu, tangganya dari kayu dan dilengkapi degan dinding bebrapa lembar papan yang tidak habis menutupi keseluruhannya, beberapa dinding papan yang digabungkan kira-kira hanya selutut anak-anak, bangunan itu mirip dengan balai yang sering aku lihat di dayahku dan dikampungku. Suara ombak yang gaduh berirama pantai pulang pergi mengunjungi dan pecah diantara pilar-pilar kayu yang kokoh yang di alasi seperti semen itu.
Langkahku seperti tidak ragu untuk melangkah lebih dekat kesana, irama gaduh ombak beradu dengan irama pengajian merdu dari beberapa bocah kecil yang berpakaian serba putih, “seragam sekali“ aku berguman kagum dan semakin penasaran. Mereka berkumpul di sebuah balai yang paling besar diantara balai-balai yang lain yang letaknya berbaris horizontal itu, aku berhenti sekejap memastikan, rasa penasaran yang mulai menjalar ke otakku membuatku seperti tidak ingin gegabah dan buru-buru lalu memutuskan untuk sejenak berdiri dan mengamatinya.
Laut dengan senja adalah sebuah lukisan alam yang maha dahsyat indahnya, apalagi beradi dengan irama bacan ayat-ayat cinta Allah kepada makhlukNya, aku sedikit megernyitkan mata, seolah sedang meneliti, memastikan sesuatu. Tapi seorang anak perempuan yang memakai jilbab putih berenda di atas dahi memandangiku, lalu mengkode sesuatu kepada teman di sampingnya. Aku mulai tersentak,  kali ini mereka semua memadangiku, melihat ke arahku, meskipun dengan memamerkan senyumannya. Refleks kumundurkan satu langkah, aku merasa ragu. Tapi, anak itu melambaikan tangannya keatasku, seperti memintaku kesana, tersenyum manis penuh arti, dan seketika beberapa anak lain juga melakukan hal yang sama, mereka tersenyum manis, seolah aku adalah orang yang sudah begitu dekat dengan mereka, tapi aku masih diam. Beberapa diantara mereka masih menatapku tersenyum dan terus melambaikan tangannya ke arahku.
Sepertinya mereka adalah orang yang baik, dan mantap aku memutuskan untuk melangkah kan kaki menuju balai itu, balai di pinggir pantai yang dipenuhi bocah-bocah kecil yang berpakaian serba putih yang sedang menunggu senja dengan bacaan indah itu. aku masih belum mengerti tempat apa ini, mereka kembali melanjutkan pengajiannya, seolah aku tidak ada disana, kembali khusyu dan aku hanya mengamati mereka. “Ya Allah, syahdu sekali, khusyu sekali, bacaanya sampai ke hati, dengan lukisan alam yang membuat air mataku tidak henti-hentinya mengalir, bacaannya mengalun lembut, semakin lembut dan semakin mudah mengalir kehatiku. “Ya Rabb, dimana aku? dan kemana aku selama ini?
Semakin dan semakin lama bacaannya, mereka hanyut sekali dalam ayat-ayat itu. hingga akhirnya magrib pun datang, lantunan azan seolah membuat ombak ingin menetap disana dan tidak ingin berkelana lagi ke tujuh samudera, aku hanyut, tapi sayang aku sedang tidak bisa shalat padahal aku ingin sekali berjamaah disana. lagi, aku menjadi penonton.

Setelah dikir itu, malam sempurna datang, dan di samping matahri tenggelam tadi, aku melihat bulan kecil bergelantungan bersama bintang Indah sekali langit itu, kali ini aku sudah duduk di atas salah satu anak tangga dan beberapa anak perempuan dari tadi hilir mudik lewat di depanku, menyapaku tidak dengan kata, tapi hanya dengan senyuman manis. Mereka membawa tas-tasnya, sepertinya mereka akan segera belajar. Dan beberapa anak laki-laki yang berpakaian serba putih sibuk berlarian di depanku. Raut bahagia jelas sekali terlihat di wajah-wajah polos mereka. membuat aku semakin betah disini, angin laut berhembus menerbangkan kerudungku, aku tersenyum damai jelas sekali terasa. Wajahku jelas sekali menampilkan hatiku, dari tadi raut bahagia di wajahku tidak bisa tersembunyikan. Dalam celah-celah waktu bocah kecil itu bermain bersama teman-temannya, sesekali mereka melemparkan senyuman manis ke arahku dan akupun begitu saling melemparkan senyuman. Hanya itu, tidak ada percakapan lain.
Tapi dua orang anak perempuan tiba-tiba duduk dan berhenti di sampingku, mereka menatapku aneh tapi masih dengan penuh senyuman penuh tanda tanya. Barangkali, ini saatnya aku bertanya sesuatu kepada mereka, dua anak manis ini. Dari tadi tidak ada bahasa disini, hanya lantunan ayat-ayat suci, pekikan senyuman bahagia, lebih dari itu tidak. Iya ini adalah saatnya.
“Dek, ini dimana? Tempat apa?
Mereka tidak menjawab, hanya suara gemuruh ombak dan suara tawa riang bocah laki-laki yang sedang berlari itu yang terdengar, sedangkan mereka masih bergeming, masih menatapku dengan keadaan yang sama. Benar-benar aneh, tidak pernah ada seorang pun yang menatapku seperti mereka sebelumnya. Aku mencoba bertanya sekali lagi.
“Dek, ini dimana?
Kali ini mereka memberi respon, tapi dengan menunjuk ke depan, aku semakin tidak mengerti mereka buat.
”Haa? Tanya ku yang masih menunjukkan betapa kebingingungannya aku.
Mereka masih tersenyum dan menunjuk kedepan lagi, baikklah aku akan melihat ke belakangku itu , ternyata seorang lelaki muda yang memakai peci bermotif pintu Aceh (Peci degan motif favoritku) terlihat berjalan ke arahku. Semakin mendekat dan mendekat, lelaki itu tampak gagah sekali dengan balutan koko yang bewarna hijau, hijau mudah, warna favoritku.
Jantungku berdegub, aku melihat kearah dua gadis kecil itu, meminta sedikti penjelasan.
“Oh,itu, siapa itu?
Tapi mereka malah beranjak dan kembali naik ke atas lagi tanpa memperdulikanku, meloncat-loncat riang.
Oke, aku kira lelaki itu, yang seperti pada tampilannya dia adalah seorang Teungku yang akan menjelaskan banyak tanyaku ini, dan aku harus membuang semua rasa raguku untuk bertanya. Aku harus menghampirinya. Tapi, tunggu, sepertinya dia juga akan berjalan menemuiku, jantungku semakin tearasa tidak jelas dan tidak tertata, aku salah tingkah. Kutata tingkahku mengatur nafas dan aku mulai bersiap untuk menunggu, dari kejauhan seperti aku dapat melihat wajahnya yang beraura teduh dengan senyuman yang begitu mendamaikan. Tapi, kenapa pada jarak beberapa langkah lagi dia berhenti, tidak menghampiri ku, pdahal jelas-jelas dia melihatku, pandangannya kearahku, sepertniya pada posisi ini aku yang harus berjalan untuk menanyakan kepadanya.
Langkahku kembali menyentuh pasir, kira-kira dalam hitungan tujuh langkah aku tepat berdiri pda jarak dua langka dari arahnya berdiri,dan sepertinya cukup untuk ku mendengar sedikit penjelasan darinya tentang tempat apa ini, apa nama tempat yang begitu indah ini, dimana sebenarnya aku berada. Dia masih menatapku dengan senyuman, manis sekali.
“Tgk, dimana ini?


“Brummmm....” suara kayu patah, aku mulai terjaga.  Sepertinya kayu tempat tidurku patah lagi.
“Ah, sayang sekali, ternyata senja itu hanya ada di tengah malam dan aku ingin kembali ketempat senja itu, senja yang begitu mendamaikan itu.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerita Bersama Hujan di Awal Muharram 1440

Hujan sepanjang malam tadi sudah mulai berhenti, malam pekat sebentar lagi akan berganti dengan cahaya fajar. Sayup suara Azan mulai terdeng...