Rabu, 11 April 2018

Lelaki kupanggil dengan Sebutan ayah

Disaat orang-orang begitu mudah untuk meminta sesuatu pada orangtuanya tapi kami berjuang sendiri, kami menjadi sok-sok mandiri, kadang hidup seperti menaruh beban untuk di hari-hari kami, orang tua kami, kesayangan kami, yaitu keluarga kami itu adalah energi utama semangat kami. Berharap ada perubahan untuk hidupnya, berharap kami bukan mnejadi beban untuk lelaki tangguh yang kini sudah mulai renta dan lemah dengan kenangan perjuangan untuk kami, tapi, pda seoson ini, lelaki itu telah menjadi lemah, bulir-bulir peluhnya tidak pernah mengeluh, bahkan sampai sekarang. peluh itu belum pernah mengering, meskipun telah habis. Ayah, lelaki itu kupanggil dengan sebutan ayah.

Memang begitu lah hidup, pada season kami harus dipaksa mengerti kalau kami harus memahami konsep alam semesta yang selalu bisa mengadili, alam semesta yang selalu adil dan pada setiap detik pertemuan yang di dominasi perasaan beruntung jika kami mau mengkajinya. Keadaan ini memang sering membuat kami mampu terjatuh, tapi kemudian kembali bangkit lagi, kami saling membangkitkan untuk kembali berjuang lagi.



 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hei Mei...

Hei Mei, Aku menyukai bulanmu bulan di pertengahan tahun yang mulai menjelaskan perjalanan tahun ini, kemana ia akan pergi dan berlari. Mei...