Minggu, 03 Desember 2017

Melodi Gerimis Desember yang Bermotivasi



Melodi Gerimis Desember yang Bermotivasi

Pagi ini dan beberapa pagi yang lalu, masih sama. Hujan masih senantiasa membasahi kota kecilku. Basah, dingin dan genangan air karena rintikan hujan menjadi pemandangan pigura di depan jendela kamar tempat aku mengetik ini. Baru beberapa saat yang lalu hujan berhenti. Hanya sekitar lima belas menit setelah aku menyelesaikan shalat dhuhur ku di penghujung waktu tadi. Kini, hujan kembali turun dengan rintiknya.
Aku menyukai hujan dengan rintik melodi yang dihasilkannya. Tapi untuk dua minggu ini, aku dan keadaan  bumi disini merindukan matahari. Matahari yang biasa bersinar dan membantu mengeringkan jemuranku. Ah, begitulah kita. Kita itu menyukai sesuatu dengan porsinya. Ada saatnya kita merindukan hujan, dan ada saatnya kita merindukan matahari. Juli dan Desember dua waktu di bagian khaltuliswa yang begitu kontras dan ya, Juli dan Desember juga ternyata mengajarkan kita betapa sesuatu itu dirindukan ketika jauh dan hakikat adanya rindu, atau keinginan itu adalah ketika kita jauh dari hal tersebut. Jauh dengan jarak, atau jauh dengan harapan. Dan ketika ada biasa saja. Haha..  tapi saat suatu hal itu jauh kita baru merasa bahwa kita butuh. Ah ya, lagi-lagi semua membuktikan manusia itu makhluk yang tidak pernah puas, sulit bersyukur dan sering tidak menghargai apa yang sedang dimilikinya. (Belajar untuk mengurangi hal negatif tersebut ya Dear..!)
Oke. Cerita pagi ini adalah cerita perjuangan beratemu dengan sosok lelaki muda yang begitu menginspirasi, lelaki muda dengan segudang prestasi, lelaki muda yang dengan banyak kata dan aksi yang begitu menghipnotis. Sebenarnya, niat yang paling utamanya bukan untuk melihat lelaki muda itu. lelaki muda yang ya, bisa dikatakan salah satu idola atau calon iman idaman buat para muslimah lah. Tapi tujuan utama kami adalah untuk mengikut seminarnya itu.
Hujan kadang juga mampu ampuh sebagain alasan untuk malas. Tapi tidak untuk hari ini. Aku menerosbos hujan untuk mengikuti seminar nasional motivasi itu. sebenarnya aku hampir dikalahkan oleh hujan tadi pagi dan suasana dingin yang menusuk relung-relung nadi. Hampir berniat untuk membatalkan jadwal saja. Tapi, mengingat dan menimbang seratus ribu itu (bayaran untuk tiket seminar) bukanlah uang yang murah buat aku dan itu akan hilang sia-sia adalah alasan yang pertama dan terkuat untukku tidak membatalkan rencanaku hari ini. Haha. See! Betapa kita tidak mau rugi dan betapa uang seratus ribu itu ternyata begitu berpengaruh untuk motivasi dan semangat kita. Mungkin seandainya sepuluh ribu bayarannya aku tidak akan bisa menulis ketikan ini. Karena bisa kalian tebak mungkin hujan telah mengalahkan ku.


Jumat Gerimis di Aron
Jumat di Aron dengan Syafii Effendi. Sebenarnya menurutku banyak orang yang bisa mengatakan yang dia katakan. Tapi masalahnya kata-kata itu tidak akan memberi pengaruh apa-apa, kita tidak akan bisa percaya begitu saja jika orang tersebut tidak memberikan dampak apa-apa pada hidupnya atau kata lain dia bukan orang hebat. So, bagaimana dia bisa mengubah banyak orang dengan kata-katanya, sedangkan dia sendiri biasa saja Karena seperti pada dasarnya manusia itu lebih banyak meniru dari pada mendengar melihat orang yang mengatakannya. So, apalagi motivasi di akhir tahun.
Hujan, angin, dingin sampai menggigil teralami hari ini. Tapi tidak apa-apa. Ada banyak yang terpelajari hari ini. Bukan dari Syafii Effendi saja, tapi dari hujan dan melodinya. Hujan dan nuansanya. Bahkan mungkin bang Syafii (begitu katanya pangiilan yang begitu dirindukannya “Abang” haha, bosan di panggil mas-mas terus..haha) harus berterimakasih pada hujan yang telah membuat salah salah satu pesertanya belajar banyak hal dari manggabungkan kata-kata motivasinya dan nuansa hujan.  Tapi mungkin aku saja kali ya? dan karena itu mungkin jika bang syafii baca blog ini bibirnya akan naik tiga senti meter sambil  mikir mungkin kebingungsn ( Haa? Maksudya apa?) Hahah whateverlah.
Oh ya, sebenarnya kami tidak tahu tempat seminar itu. Dengar namanya saja baru pertama kali.  Sebagai gadis yang hobi travelling tapi jarang jalan-jalan,  Aku sama Nisak sempat bingung juga mau kemana. Tapi dua orang cowok yang bermantel di depan kami yang tiba-tiba membuat kami iri di tengah hujan gerimis yang sepertinya beberapa menit kemudian akan menjadi hujan badai. Dua cowok itu pakek mantel lengkap, sedangkan kami basah kuyup, kalau ada yang bilang kami cewek basah atau bahasa Acehnya Inoeng Buluet  sepertinya udah cocok. Tapi waktu itu aja sih, secara lagi hujan. Saat kami udah kebingungan itu, feeling, haha.. lagi-lagi aku mengandalkan feeling. Itu cowok bermantel sepertinya juga ikut seminar secara dari penampilannya resmi-resmi gitu dan kebetulan tadi 1 Desember tanggal merah, bertetepatan dengan maulid nabi besar Muhammada saw. (Jangan lupa perbanyak selawat ya!)  yang gak mungkin lah orang itu berdua masuk kerja atau masuk kuliah. Aku bilang sama Nisak yang rada-rada mulai khawaitr kalau nanti kami salah alamat, kalau aku 90% yakin kalau dua cowok itu mau ikut seminar dan karakter penasaran gila aku pingin langsung menghampiri dan nanyain lansung ke orangnya, apakah tu orang benar ikut seminar atau enggak. Tapi, gak jadi. And Finally ketika aku fight resmi memutuskan ngikutin mereka, orang itu berdua melambaikan tangan kepada kami yang aba-abanya mengasih kode untuk ngikutin mereka (gak usah disruh pun udah ngikutin), Tebakanku benar. Waktunya  sekarang nanya buat sekedar memastikan,  dan ternyata you know! ternyata cowok itu adalah anak kampus, siapa lagi kalau bukan bang Multazam sama fadel.
           And at the least, kehidupan selalu mengajarkan kita dan itu sesuatu hal yang sering kita temui dalam kehidupan nyata ini, ada banyak hal yang harus berubah dan memang berubah tapi kita tidak berubah dan itu menyakitkan karena kita hanya sebagai penonton perubahan saja, atau fisik kita yang berubah tapi jiwa kita tidak pernah berubah, padahal fisik kita menuntut perubahan. Kita punya mimpi tapi kita tidak sadar, kalau mimpi kita tidak pernah membuat kita berubah, yang sebenarnya dengan mimpi itu kita akan berani menghadapi perubahan tanpa beban. Karena  kita sebenarnya tidak sadar kalau sebenarnya kita sedang bermimpi dalam tidur dan itu artinya ada yang salah dari cara kita bermimpi, sesuatu hal yang harus kita perbaiki, yang memang harus kita perbaiki dan itu butuh konsisten, komitmen yang tinggi dan cara yang berbeda dari penyampaian materi tadi, satu kalimat  dari beberapa kalimat yang paling membekas adalah siapapun yang tidak berubah, mereka akan punah” dan itu menyakitkan.
Gerimis masih bertahan sampai di penghujung senja hari ini. Musim hujan desember kali ini akan menuliskan satu angaka baru di belakang angka dua, menggantikan angka nol, itu artinya aku dua puluh tiga hari dari hari aku menulis ini  akan genap berumur dua puluh satu tahun dan itu bukanlah suatu umur yang wajar untukku menyepele banyak hal seperti dulu, disaat banyak orang di usiaku yang sudah tumbuh dan sukses aku masih butiran debu utuk impianku(oh, so sad) big dreamku, yang gak usah aku sebutin disini. Tapi itu juga bukan bearti aku sudah telat dan berhenti. No, waktuku masih banyak untuk itu, aku akan terus dan terus berjuang, lima tahun dari sekarang aku akan menjadi sesuatu yang dengan sesuatu itu aku akan membuat seseorang menepuk tangan dan bangga kepadaku dalam hatinya. Why mesti dalam hati, karena ada alasan untuk itu dan alasan itu berhubungan ketika aku menjadi perasa ketika anak kampus melihat aku di seminar itu dan itu aku tidak menulisakan alasannya disinii. Ribet. Lagian kalian juga tidak ingin tahu sepertinya. Agak aneh soalnya pun.
Sebelum pengakhiran dari tulisan yang mugkin gak ada manfaatnya ini aku akan sedikit menuliskan sebuah kata-kata yang aku simpulkan dari seminar syafii effendi tadi, tapi bang fi’i tidak mengatakn ini sebenarnya, aku menyimpulkan dari semua perkataannya. “Cintai diri sendiri, cintai kegilaanmu banggalah terhadap kegilaan yang kamu miliki, asalkan itu baik untuk masa depanmu dan tentunya tidak melanggar syariat Tuhan dan Rasul Mu”
Dan satu kata untuk seminar bang Fi’i keren sekali meski ada satu hal yang aku kurang setuju dengan yang bang syafii sampaikan itu tapi keseluruhannya aku sependapat. Tidak rui lah aku sama kawanku mengarungi banjir dan basah kuyup hari itu, karena disamping kami bisa main-main ke Aron kami juga bisa bernostalgia kembali dengan masa kecil kami, mandi hujan dan itu menyenangkan. Haha.

                                                            Senja gerimis Lhokseumawe 1 Desember 2017, 12 Rabiul Awal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerita Bersama Hujan di Awal Muharram 1440

Hujan sepanjang malam tadi sudah mulai berhenti, malam pekat sebentar lagi akan berganti dengan cahaya fajar. Sayup suara Azan mulai terdeng...